Selasa, 11 Desember 2012

0 Pembantu Yang Cantik Part 2

Lanjutan Dari Part 1

Tidak tahu kenapa tapi berciuman dengan Tiur pembantuku yang cantik ini sensasinya sungguh luar biasa berbeda. Setiap air liur yang membasahi rongga bibirnya terasa manis di lidahku membuat aku semakin ganas mengulum dan menyedot2 bibirnya, bahkan sanking nafsunya terkadang kuhisap penuh kedua bibirnya yang kecil itu.

"Mmmmhhh.... Mmmpphhhh" erang Tiur ketika kuhisap2 lembut lidahnya.

Sama seperti air liurnya, lidah Tiur berasa begitu manis sekali. Bingung juga kenapa bisa demikian, tapi sungguh, rasa itu membuat aku seperti anak kecil yg baru pertama kali merasakan manisnya gula-gula saja.

Beberapa saat kemudian ciumanku pun perlahan beralih dari bibir turun lebih kebawah. Kubenamkan wajahku di samping lehernya sambil kuhirup dalam2 wangi yang terpancar dari bagian tubuhnya yg satu ini. Hmmmmmm..... Wangi hangat bodymist beraroma citrus yg sdh bercampur keringatnya memenuhi hidungku membuat aku semakin tenggelam dalam nafsu.... Oh Tiur, kamu benar2 bikin aku terbang melayang rasa-rasanya.

Puas menghirup wangi lehernya, lalu kujilat perlahan bagian itu dari bawah keatas membuat Tiur mendesah kegelian. "Shhhhhh.... Geliiii paaaaaaaak...."
Lalu ujung lidahku menari2 dengan liar menjelajahi setiap inchi lehernya sampai kebelakang telinganya. Sesekali ku kulum daun telinganya itu dan dengan sengaja kuhembuskan nafasku yg hangat kedalam rongga telinganya hingga membuat Tiur mendesah keras dan spontan merangkul leherku dengan erat.

Tangan kananku mulai menyusup disela-sela belakang rambutnya dan ketika jari2ku sudah berada di diatas tengkuknya, ku jambak rambut Tiur dan kutarik kepalanya mendongak agar aku bisa menikmati lehernya yang jenjang itu lebih leluasa lagi. "Slurppp... Slurpp" bunyi air liurku yang mulai membanjiri lehernya. Tiurpun hanya bisa memejamkan mata dan mengerutkan dahinya menahan kegelian dan rangsangan yang bertubi2 dari lidahku yang nakal.

Sambil menikmati lehernya, tangganku kembali turun dan kali ini menyusup dibagian belakang punggunya. Kulepas kaitan BH Tiur dan tanpa hitungan satu dua tiga, kusingkap kaos dan BHnya itu sehingga Tiurpun kini jadi bertelanjang dada. Wuahhhh... Dua gunung kembar padat, putih dan indah itu kini terpampang jelas di hadapanku. Alamaakkkkk....

"Ahhhhhhhhh.... Iiiiiihhhhhhh.... Pakkk.... Geliiiii....auuuhhhhhhhhh!!!!" Teriak Tiur. Tubuhnya menggelinjang hebat ketika kedua putingnya yg baru saja kudempetkan dengan kedua tanganku itu ku sedod dengan kuat.
Tiur berontak tak karuan, mungkin karena tidak kuat menahan sensasi geli yang dirasakan oleh kedua puting payudaranya yang sedang ku hisap2 dan ku gigit2 secara bersamaan itu.

Tiur sudah seperti orang yang kesurupan. Tubuhnya terkadang naik turun seirama dengan sedotan dan kuluman yang kulakukan di kedua putingnya itu. Dahinya berkerut, matanya merem melek dengan cepat dan kedua tanggannya mencengkram erat kedua punggunggku.

"AUuuuuuHhhhhh pakkk.... Sudahhhhh Tiur mauuu pipiiiiissss pakkkkkk!!! Aaaaaaahhhhhhhhhhh!!!!" teriaknya dengan keras diiringi dengan naiknya punggung dan merapatnya kedua kakinya. Wooghhh!!! Sepertinya Tiur sedang mengalami orgasme pertamanya saat itu...

Nafasnya yang terengah2 dan tubuhnya yang gemetaran kini terbaring lemas dihadapanku. Sesekali kulihat tubuhnya masih berkelojotan menikmati sensasi orgasmenya yang juga masih belum hilang. Oh Tiur kamu telah membuat laki-laki seperti aku ini merasa sungguh sangat bangga dan puasss sekali. Menaklukkan seorang wanita diranjang adalah idaman setiap pria diduTiur ini dan termasuk juga aku tentunya.

Aku jadi sumringah sendiri sambil menatap Tiur yang masih terkulai lemas sedangkan adik kecilku sudah mulai berontak meminta jatahnya. Hmmmmm.... Harus ku apain lagi Tiur ya...


Tiur pembantuku yang cantik masih terbaring lemah di hadapanku. Sengaja kubiarkan dia menikmati sejenak sensasi orgasme pertamanya itu tanpa ku ganggu. Lagipula bila saat itu aku langsung memulai agresiku, belum tentu dia bisa menikmatinya. Toh wanita dan pria tidak jauh berbeda, pasti dia butuh waktu agar titik-titik rangsang ditubuhnya bisa kembali normal dan tidak oversensitif seperti saat itu..

Moment ini kuhabiskan saja dengan menikmat tubuh indahnya yang kini terpampang jelas dihadapanku. Dadanya yang tadi mengacung keras kini agak sedikit terkulai tapi tentu masih tetap indah untuk dilihat. Rambutnya sedikit acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Keringat dengan jelas terlihat membasahi dahi, pipi dan lehernya. Ohhh fuck, sexy sekali melihat kondisinya saat itu. Kalau ada orang yang bilang nudism itu bukanlah suatu karya seni, mungkin dia belum pernah melihat keindahan seperti yang sedang kulihat saat ini dan kalau aku dianggap sebagai pekerja seni, sudah tentu Tiur adalah merupakan karya masterpiece yg pernah kubuat selama hidupku....

Setelah mataku puas menikmati, kini saatnyalah adik kecilku ini juga ikut merasakan kenikmatan tubuhnya sebagai penutup. Tapi sebelum itu aku masih penasaran dengan rasa air liur Tiur yang sempat kunikmati sebelumnya. Aku masih ingin merasakan rasa manis itu sekali lagi dimulutku.

Kusibak rambut Tiur dan kubelai-belai rambutnya itu sejenak... Perlahan wajahku mulai menunduk mendekati wajahnya. Kupalingkan wajahnya yang tadinya mengarah kesamping agar mengahadap ke arah wajahku. Kedua mata Tiur masih terpejam tapi bisa kulihat kalau sebenarnya dia juga memandangku dari sela-sela kelopak matanya yang sedikit terbuka.

"Mmmmhhhhhhhh....." Tiur menyambut kembali ciumanku tanpa penolakan. Sepertinya dia juga menikmati sensasi itu. Jadi benar sudah anggapanku kalau Tiur merasakan nikmatnya berciuman itu pertama kali ya dari ciuman-ciumanku ini. Tak mau mengecewakan dia, kumainkan lidahku layaknya seorang professional. Sapuan-sapuan lidahku yang mengenai langit-langit mulutnya terkadang membuat dia melenguh tertahan. "Mmppphhhh.... Ummmhhhhppp" Kuhisap-hisap lidahnya, dan kadang kubiarkan juga dia puas melumat-lumat lidahku. Mulutku dan mulutnya kini dibanjiri dengan air liur, sampai-sampai suara ciuman kami itu terdengar cukup keras dari ciuman yang sewajarnya. Ku pegang kedua lehernya agar aku bisa lebih leluasa menikmati bibir dan air liuranya itu. Oh Tiur, nikmat sekali air liurmu ini sayang...

Masih aktif berciuman, kedua tanganku sudah mulai bergerilya turun kebawah. Bukan payudaranya kali ini yang kutuju tapi langsung kutarik celana pendeknya itu kebawah. Tiur tidak mencegah sama sekali perbuatanku itu jadi dengan sekejap saja, tubuh Tiur kini sudah hampir telanjang bulat, hanya celana dalamnya yang berwarna coklat muda itu saja yang masih menutupi bagian paling sensitifnya.

Dengan perlahan jari telunjukku ku arahkan ke vaginanya dan begitu ujung jariku itu menyentuh bagian luar celana dalamnya, Tiur langsung berontak seperti kesetrum. Waduh-waduh, sepertinya semua sensasi seksual yang kuberikan ini benar-benar pengalaman pertama buat dia.
Tak peduli dengan tubuhnya yang bergoyang-goyang tak karuan itu, jariku tetap kugesek-gesekan dan kutusuk-tusuk dengan pelan ke arah lipatan bibir vaginanya. Walau hal ini kulakukan dari luar cd-nya namun sensasi kenikmatan yang kuberikan saat itu tetap berasa luar biasa baginya.

"Ooooooouhhhh..... Pakkk.... Geliiii pakkk.... Ouuuuuahhh... Tiur ga kuaattt...." Erangnya ketika gesekan dan tusukan-tusukan yang kulakukan itu ku buat menjadi lebih intens. Jariku yg tadinya kering kini sudah mulai basah. CDnya yang tadinya hanya basah sedikit karena orgasme kini sudah seperti orang yang habis pipis di celana saja.

Aku yang sudah mulai bernafsu berat akhirnya mencoba menyibak penutup keperawanannya itu dengan tanganku. Kutarik celana dalamnya kebawah sampai akhirnya Tiur benar-benar telanjang bulat, bersih tanpa ada satu helai benangpun menutupi tubuhnya.
Alammaaaakkkk.... Tubuh Tiur begitu sempurna, wajahnya yang cantik, payudaranya yang kini kembali kencang dan mencuat lalu vaginanya yang masih muda dan hanya ditumbuhi bulu-buku halus itu membuat adik kecilku berontak hebat minta di lepas dari sangkarnya.

Dengan gerakan terburu-buru ku lepas semua baju dan celanaku sampai akupun jadi telanjang bulat sama sepertinya. Ku putar badanku sehingga wajahku menghadap ke arah vagina Tiur dan adik kecilku mengarah ke wajahnya.
Ku sibak kedua pahanya kekiri dan kanan sehingga terlihat jelaslah surga duTiur yang selama ini ku nanti-nanti.
Vaginanya yang masih segar itu terlihat merah dan merekah. Bibirnyapun masih rapih tidak bergelambir. Kubuka bibir vaginanya lebar-lebar dengan kedua jari telunjukku agar aku bisa melihat dengan lebih jelas lagi. Oh my God, vaginanya begitu becek dengan cairan bening. Dinding dalam vagina Tiur berwarna pink pucat, tak terlihat lubang menuju rahimnya memandakan pembantuku yang cantik ini memang 100% masih perawan. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa menakjubkan.

Akupun sudah tak kuasa lagi untuk segera menikmati hidangan yang paling istimewa ini. Tapi sebelum itu, adik kecilku yg kini bergantung bebas didepan wajah Tiur ku arahkan menuju mulutnya. "Tiuraa.. Isepin punya saya yaa" pintaku memelas.
Tak begitu lama adik kecilku itu pun merasakan hangat yg luar biasa ketika Tiur mulai memasukkannya kedalam mulutnya. Apalagi kondisi mulutnya saat itu memnag lagi basah2nya sehabis berciuman hot denganku tadi.

Kunikmati sejenak rasa hangat yg sedang menyelimuti batang kemaluanku. "Mmmmmmmmmmmmmmm.... Enak banget Tiur!.... kamu sudah pintar ya sekarang... Ouhhhh!.... ".
Mendengar erangan dan sekaligus pujian dariku itu Tiur jadi lebih berinisiatif. Di sedotnya kuat kepala adik kecilku sambil dua jarinya yang melingkar di batang kemaluanku di gerakinnya naik turun. Uaaahhhhh nikmatnya bukan main. Mungkin saat itu aku juga sudah mulai basah dengan cairan pelumas yg keluar sedikit demi sedikit di kemaluanku.

Kuluman demi kuluman yang kadang terkesan masih amatir itu justru membuat aku merasakan nikmat yang tiada tara. Siapa bilang kalau kena gigi berarti tidak nikmat??, bagiku sentuhan-sentuhan kecil giginya dibagian kepala dan batang kemaluanku malah ikut menambah sensasi kenikmatan yang sungguh luar biasa. Aku jadi berharap dan menunggu kapan gigitan-gigitan kecil itu kembali menghampiri..

"Enak banget Tiur..... Terussss begituu yaa sayang.." Pintaku memelas berharap ada kejutan-kejutan lain yang akan dilakukan Tiur untukku.

Perhatianku kini kembali fokus terhadap apa yg dari tadi ada di depanku. Ya, vagina Tiur yang becek itu memang masih belum kugarap dari tadi karena keasyikan menikmati kuluman-kulumannya yang super duper hot di adik kecilku ini.

Saat kutundukkan wajahku kearah vaginanya, seketika itu juga wangi khas menusuk hidungku. Kunikmati sebentar dan
"Oooohhmmpppphhhh!!!!!!!!! " Tiur tiba-tiba berteriak ketika ujung lidahku menyentuh klitorisnya yang becek itu. Namun karena penisku yang sedang menegang sempurna dimulutnya suaranyapun menjadi tertahan. Kulanjutkan menjilat pelan area seputar klitorisnya sambil terkadang ku kulum-kulum bagian itu. Tubuh Tiur bergetar hebat, bisa kurasakan dia begitu tak kuasa menahan sensasi yang sedang kuberikan itu, apalagi disaat kedua telunjukku kugunakan untuk menyibak bibir vaginanya dan lidahku dengan ganasnya menyapu setiap senti bagian itu dengan penuh nafsu. Oalahh, Tiur berkelonjotan hebat sampai-sampai penisku di gigitnya dengan kuat lalu kedua kakinyapun mengapit kepalaku.

Puas menikmati lezatnya vagina becek Tiur, ku cabut penisku dari mulutnya dan kuputar badanku membentuk posisi missionaris.
Kuangkat kedua kakinya keatas lebar-lebar dan ujung kepala penisku pelan-pelan kubebenamkan kearah vaginanya. Oooohhhhhhh fuuuuckkkkk.. Anjeeeengggg... Enak benerrrr sensasi yang kurasakan saat itu.
Namun baru sesenti kepala penisku itu masuk, Tiur langsung menahannya dengan kakinya. Dia berontak dan tangannya spontan mendorong perutku menjauh. "Sakittttt Pakkkk!!! Jangannn!! Tiur mohonnnn" teriaknya memelas. Aku yang sudah nafsu sampai diubun-ubun boro-boro mempedulikan, mendengarnya saja aku tidak.
Dengan sekuat tenaga kudorong penisku itu masuk kedalam vaginanya. Fuuuuuckkkkk!! Tiur kembali menahan laju tubuhku dan kali ini tubuhnya dimundurkannya hingga dorongan penisku itu gagal menjebol dinding keperawanannya.
"Pakkkk jangaaaaannn Tiur masih perawannn!! Tiur ga mau diginiin sama bapakkkk" teriaknya lagi mengingatkanku. Aku jadi sedikit emosi mendengarnya, apalagi adik kecilku yang baru sedikit merasakan jepitan vaginanya sudah kembali berontak tidak sabar.
"Udahh deh Tiur! Ga papa koq! Kamu percaya saja sama saya! Kamu dr td juga suka kan saya beginiin!" tanpa menunggu jawabannya kutarik lagi pinggulnya mendekat dan kepala penisku mulai terbenam kembali dibalik lipatan bibir vaginanya.
"Pakkk Tiur mohooonnn... Jangan pakkk..." Tiur kembali berteriak, tapi kali ini nada suaranya bergetar lirih. "Bapakk kan tadi bilang sayang sama Tiur.. kalau bapak sayang sama Tiur, Tiur mohon, Tiur jangan diginiin ya pak..." Pintanya memelas dengan suaranya yang bercampur dengan isak tangis. Duk!!! Hatiku tiba-tiba seperti dipukul oleh sesuatu benda yang keras. Suara dan kata-kata Tiur itu sontak membuatku tersadar tentang perbuatan setan yang akan kulakukan saat itu. Ohhh my... Kepalaku langsung dipenuhi pikiran-pikiran. Bagaimana bila Tiur benar-benar kuperawani? Apa nanti aku harus bertanggung jawab? Apa kata istriku nanti kalau dia tahu? Apakah aku nanti tidak dihujat dan dipermalukan habis-habisan kalau seandainya aku harus menikah dengan seorang "pembantu"? Apa yang terjadi dengan kehidupanku selanjutnya???
Shittt!!! Pikiran-pikiran itu benar-benar membuatku sadar seketika! Aku pun terdiam mematung menyadari perbuatanku itu...

Kucabut penisku yang setengah terbenam itu dari vaginanya dan aku pun merebahkan tubuhku disampingnya dengan lesu. Aku sudah ill fill dengan diriku sendiri....

Pandanganku menewarang kosong. Aku berar-benar tidak dapat berpikir lagi..
Ku biarkan Tiur disampingku. Tak kuperhatikan lagi apa yang sedang dilakukannya. Mau memakai bajunya, atau langsung keluar dari kamarkupun aku sudah tak peduli lagi...

Tak kusangka, Tiur tiba-tiba memeluk dan menyandarkan wajahnya diatas dadaku... Aku kaget juga dengan apa yang dia lakukan saat itu. Tiur apa yang sedang ada dipikiranmu saat itu??

Tiur tak bersuara sedikitpun tapi wajahnya masih menempel hangat diatasku. Ohhhh tindakannya itu membuat hatiku merasa menjadi lebih tenang. Rasa bersalahkupun berangsur-angsur mulai menghilang. Bisa kurasakan ada kasih sayang yang terpancar dari bahasa tubuhnya itu...

Oh Tiur, aku jadi betul-betul jatuh hati sama kamu sayang....

Ku belai rambutnya dan kukecup keningnya dengan mesra. "Tiur, terimaksih ya kamu sudah bikin saya sadar.... " Ucapku dengan nada penuh penyesalan.
Tiur tidak menjawab, tapi bisa kurasakan pelukannya menjadi lebih kencang dan wajahnya semakin dibenamkan diatas dadaku....

The end...

Kamis, 06 Desember 2012

0 Pembantu Yang Cantik Part 1

Hari ini hari dimana aku terpaksa kembali memberhentikan pembantu rumahku untuk yang ke sekian kalinya. Habis mau bagaimana lagi? Walau sudah gonta-ganti pembantu dari yayasan tapi tetap saja tidak ada yg bisa bekerja sesuai dengan apa yang aku harapkan. Dari mulai bekerja seenaknya udelnya sendiri, tidak telaten, bahkan sampai ada yg kerjanya cuman ngegosip saja sama tetangga. Hadoooh... Memang benar kata temanku, nyari pembantu itu ga jauh beda dengan nyari jodoh ternyata...

Walaupun sudah empet rasanya untuk nyari pembantu lagi, tapi apa boleh buat, aku dan istriku sama-sama pekerja kantoran jadi untuk urusan pekerjaan rumah tangga sudah tentu kami berdua tidak punya cukup waktu untuk melakukannya apalagi urusan menjaga anak? Beruntung selang beberapa hari sejak pembantuku yg terakhir itu ku berhentikan mertuaku mengabari bahwa pembantu yg sedang bekerja dirumahnya punya saudara yang sedang butuh pekerjaan. Singkat kata aku-pun langsung menerima pembantu yg ditawari mertuaku itu untuk bekerja di rumahku.

Sebut saja namanya Tiur, masih lugu, umurnya-pun masih 16 tahun dan dia baru 1 tahun pengalaman menjadi pembantu rumah tangga. Waktu awal-awal bekerja dirumahku aku tidak terlalu memperhatikan dia karena kupikir ah mungkin sama saja dengan pembantu2 sebelumnya. Namun setelah satu bulan bekerja mau tidak mau terlihat juga sifat-sifat aslinya...

Diluar dugaan, Tiur ternyata anak yg sungguh rajin bekerja. Dia penuh dengan inisiatif dan juga telaten menjaga si kecil yg baru berumur 2 tahun itu. Aku sempat tersenyum gembira karena merasa dia adalah pembantu yg selama ini aku harapkan. Aku pun merasa sayang bila suatu saat nanti kehilangan dia dari rumahku. Karena ya tadi itu, sangat susah mencari pembantu yg sesuai harapan di jaman sekarang ini.

Tiurtku untuk membuat Tiur betah bekerja dirumah aku sampaikan juga kepada istriku dan diapun langsung setuju karena memang, istriku juga merasa Tiur adalah pembantu yg tepat bagi keluarga kami.

Untuk membuatnya betah bekerja, semua kebutuhan bulananya kami penuhi. Dari uang jajan harian, hal2 kecil seperti sabun mandi dan odol sampai parfum dan handbody yg seharusnya hanya untuk kecantikan-pun tidak segan2 kami belikan untuknya. Benar saja, Tiur begitu betah bekerja di rumahku dan tak terasa sudah 1 tahun dia bekerja tanpa ada tanda2 kalau dia jenuh atau tidak senang bekerja untuk keluargaku.

Karena semua kebutuhan termasuk alat2 kecantikanpun kami berikan kepada dia, Tiur menjadi rajin merawat diri. Nah, suatu waktu ketika aku, anakku dan dia sedang pergi jalan-jalan ke sebuah mall, terbersit Tiurtku untuk menyenangi dia dengan mengajaknya ke salon untuk memotong rambutnya yg sdh kelewat panjang dan kurang terurus itu. Awalnya dia menolak karena merasa malu dan tidak enak, tapi karena aku paksakan akhirnya dia mau juga.

Satu jam menunggu dia di Salon aku habiskan dengan anakku di sebuah playland yang ada di mall itu. Begitu selesai akupun kembali ke salon untuk menjemput Tiur. Tapi Ya ampun..... Aku begitu kaget melihat dia dan rambutnya yang baru di potong itu berdiri di depanku... Dia begitu cantik! Ya, cantik! Bukan hanya manis, tapi benar2 cantik sekali sampai aku terdiam menganga beberapa detik seperti layaknya orang yg baru saja melihat keajaiban.

Perjalanan pulang dari mall, aku tidak begitu konsen menyetir. Dari td aku selalu mencuri-curi pandang untuk memperhatikan Tiur dengan penampilan barunya itu. Potongan rambutnya pendek sebahu, rapih dan berkilau. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang putih dan mulus itu... Eh tunggu dulu? Putih dan mulus?? Apa aku tidak salah lihat? Seingatku dia dulu biasa saja, kusam malahan? Apa karena produk2 kecantikan itu memberikan efek yg sedemikian rupa? Atau rambutnya yg panjang yg selama ini secara tidak langsung menyembunyikan kecantikannya? Atau mungkin aku saja yang selama ini tdk memperhatikan dia dengan baik?? Ahhhhhh... Bodo amat lah. Yang jelas ada wanita muda dan cantik sedang duduk disampingku.. Tidak, bukan hanya itu. Tapi dia akan selalu ada serumah denganku kan?.

Lampu merah masih menyala. Ada angka 90 tertulis di panel LED yang terletak diatasnya menadakan cukup waktu bagiku untuk lebih detil lagi melirik si cantik Tiur yg sedang kerepotan mengatur duduk si kecil di pangkuannya. Ku perhatikan wajahnya sekali lagi dengan rasa yang masih tidak percaya. Memang ternyata aku tidak salah lihat tadi. Dia benar2 cantik sekali...

Lalu perlahan-lahan pandanganku mulai penasaran melirik turun ke arah lehernya yg juga jadi terlihat jelas karena potongan rambut barunya itu. Oh my god, Lehernya ternyata jenjang... Mungkin karena dia rajin bekerja jadi otomatis tubuhnya-pun terbentuk proporsional dengan sendirinya. Tidak heran memang.

Puas melihat lehernya yg jenjang itu, bola mataku kembali penasaran. Kali ini mulai turun lagi dari lehernya yg indah itu menuju bagian dadanya yg ternyata juga membuat aku terpana... Oh shit! Dadanya begitu padat dan berisi. Cukup besar untuk umurnya yang baru 16 tahun itu. Malah lebih besar dari punya istriku sepertinya? Ada apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Kenapa baru sekarang aku ngeh dengan fisik pembantuku ini??

Malam itu jadi malam yang paling menyiksa buatku. Walau sudah mencoba mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lain tapi tetap saja, yang kupikirkan hanyalah wajah cantik Tiur dari td. Lama2 lamunankupun mulai menjurus ke arah yang tidak2. Aku mulai membayangkan kalau saat ini yg sedang tidur disampingku ini adalah Tiur dan bukan istriku.
Aku mulai berangan-angan untuk bisa sekedar merasakan hangat tubuhnya dipelukanku..

Hari demi hari berlalu aku semakin penasaran dibuatnya. Tiur begitu lugu. Oh ya, dia ternyata sudah 17 tahun loh. Aku lupa kalau sampai saat ini dia sudah bekerja setahun lebih di keluargaku. Dia sudah dewasa tentunya kan? Artinya semakin matang penampilannya dimataku.

Aku mulai mencari cara dan kesempatan agar bisa bersentuhan dengannya. Saat dia lagi di dapur misalnya. Memang dapurku itu kebetulan cukup sempit untuk lebih dari 1 orang berada didalamnya. Tapi dengan dalih mau mengambil gelas dan piring aku usahakan bisa masuk untuk sekedar bisa memeluk Tiur dari belakang walau terkesan hanya demikian.

Tidak puas dengan hanya bersentuhan seperti itu aku mulai berpikir lebih jauh... Ah ide kecil pun akhirnya muncul di kepalaku yg mulai ngeres ini. Bagaimana kalau aku pura2 saja merasa pegal2 dan minta Tiur untuk memijatku. Hmmmm... Ide yg masuk akal sepertinya ya?

Diluar dugaan, Tiur ternyata dengan enteng menerima permintaanku untuk dipijat. Dia bilang waktu di kampung dia memang sering disuruh memijat orang tuanya. Wuahhhh...rasa-rasanya ingin teriak girang sekali saat itu. Ideku ternyata disambut dengan mulusss...

Dengan bertelanjang dada, punggunggu dipijat Tiur dengan lembutnya. Harus kuakui kalau dia memang bukan pemijat professional. Tapi bukan itu kan yg aku harapkan kan? Aku cuman ingin merasakan sensasi sentuhan jari2 Tiur di tubuhku dan untungnya memang itu yg kudapatkan saat ini.

Setelah puas merasakan hangatnya tangan Tiur yang telaten itu aku tiba2 punya ide yg lebih konyol lagi. Aku minta dia untuk memijat dadaku. Ya dadaku! Aneh memang kalau dia pemijat professional pasti akan bertanya2 mungkin.

Tiur dari awal memijat punggungku dari belakang. Aku duduk bersila sedangkan dia setengah berdiri dengan kedua kakinya di tekuk di lutut. Saat itu aku berpikir bila kusuruh dia memijat dadaku maka mau tidak mau tubuhnya akan menempel dengan punggunggku agar tangannya dapat menggapai dadaku dr belakang. Dan benar saja... Oh dear, gunung kembar, padat dan berisi itu akhirnya menyentuh bagian belakang kepalaku... Hangat... seperti melayang rasanya...

Semakin Tiur berusaha memijat dadaku dari belakang maka semakin aktif dada montoknya itu menggesek2 belakang kepalaku. Owhhh semakin terlena aku dibuatnya karena merasakan seolah kepalaku sedang ikut dipijat. Bukan dengan tangan, tapi dengan kedua payudara montoknya yang kuidam-idamkan itu!

Selama 10 menit kubiarkan kepalaku digesek-gesek oleh payudaranya. Untungnya Tiur begitu lugu untuk berpikir bahwa aku sedang menikmati pijatan payudaranya itu dan dengan semangat terus memijat2 dadaku dengan aktif. Seperti disurga rasanya...

Bukan hanya kepalaku yg mulai pusing memikirkan ide2 konyol berikutnya tapi "kepala" di bawahku-pun sudah mulai bergeliat memberontak. Ahhh... That's it! Aku sudah tidak tahan lagi dan ini berarti aku ingin lebih!

Secara tiba2 aku tarik tangan Tiur dari dadaku dan ku remas lembut telapak tangannya. "Sudah ya pak?" Tanyanya, berpikir bahwa tindakan yang baru saja aku lakukan itu menandakan kalau aku ingin meyudahi pijatannya. "Emm... Iya Tiur, tapi saya mau kamu pijetin saya yg lain" balasku agak sedikit kagok.
"Oh iya pak, mau dipijet yang mana lagi?" Tanyanya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Sudah kepalang tanggung, ku tarik telapak tangannya dan kuarahkan masuk ke dalam celana pendekku sampai jarinya menyentuh barang kemaluanku yg dari tadi sudah berdiri tegak mengacung.

Tiur kaget bukan main, secara reflek ditariknya tanggannya keluar dari celanaku. Tapi karena tanganku masih memegang erat pergelangan tanggannya, tangan Tiur tidak bisa sepenuhnya keluar.
"Bapak jangan begini Pak! Tiur ngga mau" pintanya dengan memelas seperti ingin menangis. Jantungku mulai deg2an. Aku mulai berpikir dengan logika, aduh bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti dia melapor ke istriku? Bisa hancur rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini? Hadooohhh... Tapi kalaupun aku sudahi sampai disini belum tentu juga dia tidak akan melapor?? Ahhh.. Benar2 kepalang tanggung sepertinya!

"Kenapa Tiur? Ga papa koq. Saya cuman minta dipijet aja" dengan suara pelan dan kubuat semanis mungkin.
"Pak Tiur takut... Nanti Tiur dimarahi Ibu" balasnya dengan masih memelas.
"Ga lah Tiur, kan ibu ga tahu? Ya kamu jangan bilang2 ke dia nanti. Kan kamu tahu sendiri ibu orangnya bagaimana?" Kali ini ada sedikit nada ancaman di suaraku dengan harapan dia terlalu lugu untuk tidak menyadari ancamanku yg tidak masuk akal itu.
"Ehhhh... Iy..iya Pak...." jawabnya lirih. Sepertinya ancamanku termakan olehnya. Tiur memang begitu segan dengan istriku karena bila ada sesuatu yg istriku tdk suka maka dia tidak segan2 untuk memarahi pembantuku itu.

Ku tarik kembali tangan Tiur dan kuarahkan jari2nya untuk menggengam batang kemaluanku. Kali ini dia diam saja. Sangking diamnya malah tangan kecilnya itu tidak melakukan apa2 terhadap kemaluanku.
"Ayo Tiur, koq kamu diam aja. Kan saya minta dipijetin" pintaku dengan nada memaksa. Jari2nya pun mulai bergerak tidak beraturan. Ah memang terlalu lugu pembantuku yang satu ini...

Tiur perlahan-lahan mulai mengerti apa yang ku maksud. Tangannya yang mungil itu mulai menggenggam batang kemaluanku dengan penuh dan mengocoknya pelan. Aku pandu dia dengan desahan kecilku. Setiap dia melakukan pijatan yang benar aku sengaja mendesah lebih keras agar dia tahu aku menikmati itu.

5 menit berlalu, pijatan Tiur semakin sempurna. Batang kemaluanku semakin mengeras dan berharap diperlakukan lebih lagi olehnya. Sepertinya bila aku meminta lebihpun dia akan terpaksa memenuhinya pikirku saat itu.
"Udah Tiur. Kita pindah ke kamar saya aja ya. Ga enak posisi saya begini nanti malah saya pegal2 lagi" ajakku dengan nada tetap memaksa.
Tanpa menunggu jawaban dari dia, aku langsung berdiri berjalan ke arah kamarku lalu tidur bersandar diatas springbed tempat aku dan istriku biasa tidur.

Berselang beberapa detik kemudian Tiur masuk menyusul. Wajahnya tertunduk. Tidak begitu jelas kulihat wajahnya apakah dia sedang menyembunyikan matanya yg kemungkinan sedang basah dengan air mata. Ah, aku tidak mau ambil pusing. Aku tarik tanggannya kembali dan aku arahkan dia duduk berlutut di samping pinggul kiriku. Tangannya ku arahkan kembali untuk meremas batang kemaluanku yang kini dengan jelas mengacung bebas di hapannya.

Tiur kembali memijat naik turun dan meremas2 batang kemaluanku tanpa kusuruh. Sudah paham betul sepertinya dia sekarang.
"Pijetnya agak sedikit cepat ya..." pintaku seperti memelas karena sedang keenakan dengan apa yg sedang Tiur lakukan. Dia masih diam saja, tapi menuruti dengan baik.

"Oohh...ahhh... Enak Tiur" desahku tak karuan. Lama2 puncak kenikmatan itu mulai berangsur-angsur datang. Sebentar lagi aku akan orgasme. Tapi memang dasar otakku sudah ngeres betul. Ku pegang leher Tiur dan kupaksa menunduk ke arah kemaluanku itu dengan harapan dia mau mengulumnya.
"Kamu hisap2 ya! Buruan!" pintaku memaksa. Mungkin karena takut, langsung dilahapnya kepala kemaluanku itu yang membuat aku sempat menggelinjang sedikit karena merasakan hangatnya mulut dan air liur Tiur. Ohhhh nikmat tiada tara....

Kuluman demi kuluman membuat batang kemaluanku semakin berdenyut2 kencang. Arghhh aku ingin tahan lebih lama lagi tapi ternyata tidak bisa. Kombinasi pijatan keras di batang kemaluanku dan hisapan2 kencang mulut Tiur akhirnya membuat aku orgasme. Crot! Cairan hangat itu melimpah keluar dan memenuhi mulut Tiur seketika. Tiur terkaget bukan main, dia terbatuk tersendak dan menarik wajahnya menjauhi batang kemaluanku. Kubiarkan saja, karena kupikir aku tidak ingin membuatnya menderita lebih dari ini lagi...

Tiur berlari ke kamar mandi, dan kudengar dia muntah2 berusaha mengeluarkan spermaku yang sepertinya tertelan olehnya.
Ku tunggu sampai pintu kamar mandi terbuka dan dia keluar. Tiur kaget melihat aku sudah berdiri di depannya. Bisa kulihat matanya sembab seperti habis menangis.
"Tiur, kamu ga papa kan. Jangan sampe kamu cerita sama ibu ya! Soalnya bukan hanya saya, kamu juga pasti akan di amuk ibu nanti kalau kamu cerita! Paham!" Teriakku dengan nada yg tidak terlalu tinggi.
"Iya pak... Tiur ga cerita" balasnya lirih.
"Tapi nanti kalau Tiur hamil bagaimana pak? Tiur takut..." Dengan lugunya dia bertanya.
"Hamil? Ga bakalan lah Tiur. Hamil itu kalau saya masukin punya saya kedalam punya kamu itu dan saya keluarin seperti yg saya keluarin tadi di mulut kamu. Baru kamu bisa hamil!".
"Iy...iya pak.. Maaf" balasnya dengan pelan terkagok-kagok lalu menunduk.
"Ya sudah, kamu istirahat saja sana. Nanti besok2 kalau saya minta dipijetin kamu sudah tahu kan?" Sambungku sambil berjalan melengos tanpa menunggu jawaban darinya.

Aku-pun kembali masuk ke kamar tidurku. Sambil merebahkan diri kuingat2 kembali sensasi yang baru saja kurasakan... Oooh nikmatnya bikin kemaluanku mulai berdiri kembali.
Ku kocok2 sampai muncrat dan akupun mulai tertidur pulas.....

Sudah seminggu lebih semenjak kejadian kemarin itu berlalu tapi aku mencoba bersikap seperti biasa kepada Tiur. Walaupun begitu, tidak dapat kupingkiri kalau Tiur memang jadi berbeda dari biasanya. Setiap berpapasan atau disaat aku meminta dia mengerjakan sesuatu, yang biasanya dijawab dengan riang kini dijawab hanya dengan anggukan kecil saja. Sempat khawatir juga kalau dia tiba-tiba retak dan memblowup kejadian kemarin itu ke istriku. Waduh aku tidak bisa membayangkan apabila hal tersebut terjadi...

Aku jadi berpikir keras bagaimana agar situasi ini bisa kembali kondusif, karena bila kubiarkan seperti ini tentu ujung-ujungnya istriku pasti akan ngeh juga kan?

Hal pertama yang muncul dipikiranku saat itu cuma satu, aku sepertinya harus melakukan pendekatan secara persuasif ke dia. Siapa tahu dengan membelikan sesuatu yang menyenangkan hatinya, dia bisa melupakan atau minimal mengalihkan pikirannya dari kejadian tersebut.

Jumat itu sebelum pulang dari kantor, aku minta izin kepada istriku untuk pulang malam karena harus singgah ke rumah temanku dulu di daerah Blok M, padahal rencanaku saat itu sebenarnya ingin membelikan beberapa pasang baju untuk Tiur.

Ngubek-ngubek mencari baju yang cocok dan pas untuk seorang wanita ternyata tidak segampang yang aku kira. Duuhh.. sudah beberapa puluh pakaian yang aku pilih2 tapi rasa-rasanya masih belum ketemu yang cocok menurut anggapanku. Beruntung saat itu ada seorang remaja putri yang kira2 seumuran dengan Tiur mau membantuku memilih baju yang tepat. Fiuhhh... akhirnya dapat juga apa yang kubutuhkan...

Besoknya ketika istriku pergi keluar untuk hangout bareng teman2nya, tanpa membuang2 waktu aku langsung memanfaatkan situasi tersebut untuk mendekati Tiur yang sedang sibuk memasak didapur. Sepertinya dia sedang mempersiapkan menu makan siang untukku.

"Tiur, kamu masak apa hari ini?" Tanyaku dengan penuh perhatian.
"Anu,pak, masak ikan tongkol disambelin sama tumis kangkung" jawabnya gelisah.
"Oh ya udah klo begitu.. Eh kamu sudah mandi blom? Kalau sudah nanti habis masak tolong pijetin saya lagi ya? Sudah seminggu nih saya blom dipijet2 lagi sama kamu."
Kali ini sengaja kutunggu sampai dia menjawab pertanyaanku agar aku bisa melihat seperti apa responnya.
"Iy..iya pak, nanti Tiur mandi dulu..." Jawabnya pelan dan terbata2 tanpa memandang ke arahku. Hmmm... Terus terang aku masih meraba2 tentang perasaannya saat itu tapi nantilah pasti akan aku korek2 terus sampai aku tahu seaman apa sebenarnya posisiku saat ini.

Padahal baru 15 menit aku tunggu dia selesai memasak tapi aku sudah tidak sabar saja antara ingin tahu perasaan dia terhadapku dan selain itu tentunya aku juga sudah kangen merasakan jari2 kecilnya bermain dengan adik kecilku. Ahh.. Aku tetap harus menunggu beberapa menit lagi karena dia harus mandi terlebih dahulu. Damnnn...

Bunyi cipratan air kamar mandi membuatku semakin gelisah. Aku benar2 sudah tidak sabar untuk menunggunya lebih lama lagi karena otakku saat itu sudah dipenuhi dengan ide2 gila yang ingin segera aku realisasikan bersama pembantu cantikku ini. Lalu tiba2 ide cemerlang pun muncul. Ku ambil handphone blackberryku dan dengan cepat ku aktifkan fitur video recordingnya. Walau perasaan deg2an karena takut ketahuan, dengan hati2 kuarahkan lensa kamera blackberryku ke atas ventilasi kamar mandi dimana Tiur sedang asyik mengguyur tubuh telanjangnya. Shit! Sangking deg2annya aku jadi tidak berani lama2 untuk merekam moment tersebut. Segera ku turunkan tanganku dan kumatikan mode rekamnya untuk mengecek apakah gambar yang kumaksud terekam dengan baik atau tidak. Wow! Ternyata spyshot yg kulakukan itu lumayan sempurna. Bisa kulihat jelas bodynya yg aduhai walau hanya dari belakang. Lalu payudaranya yang montok itu terlihat begitu kenyal dan menggoda sehingga membuat adik kecilku langsung berdiri dengan tegak perkasa.
Ohhh Tiur, ingin rasanya ku dobrak pintu kamar mandi ini dan ku entot kamu saat itu juga sayang...



"Saya tunggu di kamar ya!" Teriakku semangat saat Tiur baru keluar dari kamar mandi, tapi dia tidak menjawab atau mungkin suaranya terlalu kecil untuk ku dengar saat itu.

Tak berapa lama kemudian Tiur sudah berada di kamarku, sedangkan aku sedang berbaring menunggunya.
"Sini kamu sandaran disini" tanganku menunjuk kearah sandaran springbed.
"Tolong pijetin kepala saya dulu ya".
Tapi tetap tak terdengar sepatah katapun yg keluar dari mulutnya walaupun dia menuruti perintahku itu.

Tiur duduk bersandar sedangkan aku dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun langsung merebahkan tubuhku diatas tubuhnya. Kepalaku dengan sengaja kuposisikan tepat diantara kedua payudaranya sehingga bisa kurasakan kembali hangat dan empuknya gunung kembar itu menjepit kedua sisi kepalaku. Emhhhh.... Nyaman dan hangat sekali rasanya...

Tiur mulai memijat2 kepalaku dengan kaku. Sepertinya dia memang masih shock dengan kejadian waktu lalu. Aku pun mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya berbicara.
"Ngomong2 kamu sdh punya pacar apa blom Tiur?" Tanyaku pelan berharap dia mau meresponnya.
"...Belum Pak..." Jawabnya lambat.
"Tapi sudah pernah pacaran kan?" Tanyaku kembali.
"Kalau pacaran Tiur belum pernah pak.. Tapi kalu suka2an iya pernah dulu waktu dikampung.."
"Oh gitu, hmmm.. Padahal kamu kan cantik. Koq ga ada yg nyantol sama kamu?" tanyaku dengan nada penasaran.
"Eeee... ga tahu pak, soalnya saya juga klo ada cowo yg suka yg ada sayanya yg suka kabur" jawabnya dengan malu2.
"Kabur gimana? Di taksir cowo koq kabur? Kamu ini aneh2 aja." candaku dengan santai. Tiur sepertinya mulai terbawa suasana. Obrolan pun terus mengalir dengan lancar. Di sela2 obrolan aku selalu sisipkan pujian2 kecil untuknya dan ternyata pujian2 tersebut mampu membuat Tiur merasa lebih nyaman.

Tak terasa sudah hampir 30 menit kami mengobrol. Terus terang, bagiku obrolan ini tidaklah begitu penting dibanding rasa penasaranku akan tubuh Tiur. Sepanjang obrolan td aku lebih konsen berpikir bagaimana caranya agar aku dapat menikmati tubuhnya yg aduhai itu. Hmmm... Bingung juga mau mulai dari mana saat itu...

"Tiur, saya mau tanya kamu nih. Tolong kamu jawab yg jujur ya" aku bertanya dengan nada sedikit serius.
"Tanya apa pak?" Balasnya penasaran.
"Kamu bohong soal umur kamu ya? Kamu pasti sdh 20 tahunan kan? Hayo kamu ngaku!" Tanyaku melanjuti.
"Engga koq pak, Tiur baru 17 tahun sekarang" jawabnya dengan penuh tanda tanya. Mungkin dia heran knp aku bertanya sedemikian rupa.
"Saya perhatikan body kamu itu seperti body anak umur 20 tahunan. Apalagi ini kamu nih! Ukurannya sdh seperti ukuran orang dewasa aja" sambil kepalaku ku miringkan kekiri sampai pipiku menggencet payudara kirinya.
Tiur tertawa kecil, dia mungkin merasa geli atau bahkan tersanjung dengan apa yang baru saja aku katakan. Untunglah, tadinya kupikir dia akan marah atau tersinggung.

"Kayanya juga lebih gede dari punya ibu nih?" Tanyaku bercanda sambil kugenggam dan kuremas2 kecil payudara kirinya.
"Ehh... Masa sih pak?" Jawabnya dengan tertawa kecil.
"Iya beneran koq" tangannku kembali meremas2 payudaranya dengan tekanan yang kuberi lebih dari sebelumnya.
Tiur kali ini tdk menjawab tapi aku bisa merasakan kalau nafasnya yg td biasa saja kini berubah menjadi seperti terengah2. Hembusan nafas yg keluar dari hidung dan mulutnya menerpa bagian belakang kepalaku sekaligus memberikan rangsangan ketika hawa hangat itu mengenai kupingku yg sensitif. Keheninganpun menjadi tak terhindarkan.

Tiur masih saja memijat kepalaku sedangakan aku makin asyik meremas2 payudara kirinya itu.
"Pak... Tiur malu kalau bapak begini terus Pak..." Tiur tiba2 berkata memecah keheningan dan sekaligus membuyarkan lamunan2 jorok yg sedang memenuhi pikiranku.
"Ah gpp koq Tiur... enak kan kan saya ginikan" payudaranya makin kuremas dengan kuat seakan tak peduli dengan perkataannya tadi.
"Empphh... Udah dong pak, Tiur mohon.." Balasnya memelas.
"Udah deh Tiur, kamu nikmatin aja. Ntar juga kamu pasti ngerasain gini sama pacar atau suami kamu kan?"
"Iya tapi kan... Ohhhmmpphh!" Tiur spontan melenguh ketika jariku mencoba menjepit putingnya dari luar bajunya. Agak sulit memang mencari lokasi putingnya dengan kondisi Tiur masih memakai baju dan BH, tapi untungnya tebakanku yg meraba2 itu cukup jitu.

Tangannya yg tadinya memijat2 kepalaku kini diam tak bergerak. Terdengar suara rintihan kecil samar2 keluar dari mulutnya ketika aku semakin aktif berusaha memilin2 dan mencubit2 putingnya itu.
"Eshhhhss....".

Tiur sepertinya pasrah menerima rangsangan2 yg kuberikan. Mungkin dia belum pernah mengalami rasa nikmat seperti yang aku berikan saat itu. Akupun tak mau membuang2 waktu lebih lama lagi. Dengan sekejap sudah kusingkap baju kaosnya keatas sebagian, sehingga bagian atas payudara kirinya itu kelihatan jelas di depan wajahku. Oh my god! Ini dia yang kutunggu2 selama ini. Payudaranya terlihat putih, mulus dan padat membuatku tertegun sejenak mengaguminuya.

Ku tarik sedikit BH Tiur kebawah sehingga menyembullah putingnya yang ternyata sudah dari tadi berdiri tegak. "Awwwwwuuhhhh... Pakkkkkk" Tiur spontan berteriak karena putingnya ku cubit dengan sedikit keras. Bukannya malah kasihan tapi teriakannya itu justru membuat aku menjadi lebih bernafsu. Ku jepit2 dan kupilin2 putingnya lebih agresif lagi sehingga Tiur mulai meracau tak karuan.
"Paakkkkk udah donggg Pak!.... Tiur ga mauuu diginiin... Ssshhhhhhh.... Awwwwwhhh!!.... Jangannn pakkkk"
Tangan Tiur tiba2 mendorong kepalaku yg saat itu baru saja mau mencoba mendekati payudaranya. Tapi apa daya, tangannya yang gemetar itu terlalu lemah untuk mencegahnya.
"Oommhhpphhh!!!!!!!!" Tiur melenguh keras ketika mulutku berhasil melumat ujung putingnya yg keras itu. "Oooouhhhhhhhhh!!! Oooooouuahhhh!!!" Teriaknya terus2an seiring hisapan2ku yg penuh dengan nafsu itu beraksi.

Namanya juga pria yang sudah beristri, soal memuaskan pasangan tentu aku sudah pengalaman toh. Tiur yg baru pertama kali merasakan secuil dari surga duTiur ini tanpa terkecuali juga tetap kuberi layanan kelas satu .

Tangan kiriku mulai bergerilya dengan menyusup kebalik kaos Tiur dan akhirnya hinggap di payudara kirinya yang masih terbungkus BH. Kuremas penuh dengan tanganku yang besar sambil mulutku masih sibuk mengulum puting payudara kanannya. Slurrppppp..... Mmmmmm... Sesekali kujilat lalu kesedot kembali dengan tekanan yang bervariasi. Kugigit2 kecil putingnya dan terkadang kusedod habis keseluruhan payudaranya di mulutku. Uahhhhh nikmatnya bukan main...

Sudah tak terdengar lagi teriakan2 yang bernada penolakan kudengar, yang ada sekarang hanyalah desisan2 kecil dan bunyi nafas yang memburu yang keluar dari mulut Tiur.Sungguh, aku begitu bernafsu dibuatnya..

Ku berhentikan sejenak aksiku, karena aku penasaran untuk melihat ekspresi wajahnya saat itu. Wooghhh, Tiur begitu cantik sekali. Kecantikannya menjadi lebih terlihat. Mungkin ini disebabkan karena ekspresinya yang saat itu sedang menahan kenikmatan yang tiada tara yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kuperhatikan dahinya mengkerut, matanya hampir terpejam, kedua pipinya merona kemerahan dan lehernya yang jenjang itupun menegang... seksi sekali.

Rasa sayang tiba2 hinggap dalam diriku, entah kenapa akupun mencium keningnya dengan mesra lalu kuciumi juga kedua matanya yang ternyata menyebabkan butiran kecil air mata yang dari tadi terkumpul di sela2 matanya menjadi pecah mengalir dan membasahi pipinya. Ohhh Tiur... Andai saja aku bisa jadikan kamu kekasihku...

"Saya sayang sama kamu Tiur..." ucapku pelan dan mesra, lalu ku kecup manis bibirnya. Tak kusangka Tiur membalas kecupanku walau tidak terlalu kentara. Aku yang tadinya hanya ingin mengecup sebentar kini malah keterusan karena responnya itu. Mmmmmhhhhh... Aku dan Tiur akhirnya berciuman dengan mesra layaknya sepasang kekasih.

Tiur memang tidak pandai berciuman, tapi justru ketidak pandaiannya itu yang membuat aku semakin ingin menikmati bibirnya lebih lama lagi.

Kubelai rambutnya dan ku elus2 kedua pipinya dengan jari2 ku. Tiur sepertinya semakin terlena... Aku bisa merasakan dia menjadi aktif menyedod dan menghisap bibirku. Hmmmmm... Mungkinkah ini adalah ciuman pertamanya?

Minggu, 11 November 2012

0 Video Cewek Mabuk Disiang Hari


Video Cewek Mabuk parah, dan memukuli orang orang atau tamu yang dekat dengannya.

Senin, 22 Oktober 2012

0 Chatting Dengan Sesama Lesbi

Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang gadis yang menyukai sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.

Kisah ini diawali dengan kegemaranku akan chatting pakai IRC dari dua tahun lalu. Dengan nick name **** (edited), aku iseng menjelajahi dunia cyber. Akhirnya kutemukan chat room/channel yang cocok denganku yaitu #lesbi, #lesbian, #lesbians, #lezbo, dan masih banyak lagi, bahkan aku sempat menjadi salah satu OP di sebuah channel lesbian. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kebanyakan dari luar negeri dan yang dari negeri sendiri. Bisa di katakan 50% orang yang online di channel tersebut adalah laki-laki, hal itu yang membuatku menjadi agak jengkel, mereka semua penipu. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita.

(***-devil) Hiii… boleh kenal nggak yah?
(****_girl) Boleh… boleh… asl-nya donk.
(***-devil) Aku 30 f jkt… kamu?
(****_girl) Gue 20 f Jogja city… hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.
(***-devil) Yeee… emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.
(****_girl) Gue Bunga.
(***-devil) Met kenal Bunga… kenalkan aku… Lina.

Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau seks. Hampir setiap hari kami bertemu di channel, kami pun mulai bertukar alamat, nomor telepon, dan foto beserta biodata melalui e-mail maupun langsung saat online di channel. Mbak Lina adalah wanita karier yang termasuk dalam golongan yuppies (young urban profesional), dia belum berkeluarga dan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Hingga pada suatu hari telepon di kosku berdering.

“Halo… bisa bicara dengan Dik Bunga?”
Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri… mmm ini dari siapa yah?”
“Ini aku Dik… Mbak Lina!”
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.
“Ya ampun Mbak Lina… bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?”
“Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?”
“Ada apa Mbak?”
“Mbak sekarang ada di Jogja nih… bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?”
“Oh my god… kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?”
“OK… makasih yah.”

Dengan segera sore itu juga aku menjemputnya di stasiun, tak lupa kubawa fotonya agar aku lebih mudah mengenali dirinya. Sesampainya di stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan blazer khas wanita karier. Aku pun menyapanya, “Mbak Lina…!” Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, “Ya ampun… Bunga… kamu nampak jauh lebih cantik dibandingkan photomu.” katanya, sembari tanpa malu-malu mengecup pipiku. Aku pun membalasnya dengan agak canggung. “Udah Mbak… ngobrolnya sambil jalan aja, udah sore nih, entar kemaleman lagi… yuk!” kataku sambil kugandeng tangannya. Selama perjalanan Mbak Lina bercerita bahwa dia ambil cuti seminggu untuk liburan, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jogja, dia ingin mengunjungi Borobudur, Prambanan, pantai Parang Tritis serta daerah wisata lain di sekitar Jogja. Aku mencarikannya hotel yang dekat dengan kosku di sekitar kampus.

Kami pun tiba di hotel T, setelah check in kami berdua segera menuju kamar, tampaknya Mbak Lina sangat lelah akibat perjalanannya.
“Mbak… kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?” kataku sembari beranjak keluar ruangan.
“Lho Bunga! kamu mau kemana?” tanya dia.
“Mmm… anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu… mau mandi, kan udah sore.”
“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar… anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!” katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.

Mbak Lina mulai melepas bajunya satu demi satu hingga tinggal BH dan celana dalamnya saja. “Bunga… kamu ini gimana, katanya mau mandi, ayo buka bajunya!” katanya sembari melucuti pakaianku, aku hanya bisa pasrah saja dengan tingkah lakunya, dia pun juga menyisakan BH dan celana dalamku saja, meski tubuhku (175 cm) lebih besar dibanding dia (kurang lebih 165 cm) aku tidak banyak berkutik. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah dengan jelas, dadanya seukuran denganku 36B, dan ia memiliki belahan pantat yang sangat indah. “Hei… disuruh mandi kok malah bengong, ayo…!” dia membimbingku ke kamar mandi, kemudian segera menutup pintu kamar mandi begitu kami berdua berada di dalam. “Mmm… mandinya bareng aja yah, biar lebih cepet, “katanya sambil tersenyum, sekarang dia mulai melepas BH dan celana dalamnya dan tanpa canggung melepas punyaku juga. Terpampang jelas di depanku wanita cantik dan seksi dengan payudara yang padat dan menjulang ke atas, aku bisa membaui aroma kewanitaanya dari kemaluannya, membuat kemaluanku semakin basah. Tanpa pikir panjang aku langsung menubruk dan memeluk tubuhnya, aku memepet tubuhnya ke dinding sehingga dia tidak dapat berkutik lagi, aku bisa merasakan sensasi yang menakjubkan ketika payudaranya bergesekan dengan payudaraku, aku bisa merasakan nafasnya mulai tidak beraturan. Mbak Lina memejamkan matanya, tampaknya dia pasrah dalam pelukanku.

Tanganku pun mulai bergerilya, menyusuri tubuh indahnya, kulumat bibir indahnya dengan bibirku, dia membalas pagutan demi pagutan, dia merangkulkan tangannya ke leherku, napasnya semakin memburu dan aroma khas kewanitaannya semakin keras menusuk hidungku. Aku pun merasa kemaluanku semakin basah, payudaraku pun semakin menegang. Pelan-pelan tanganku mulai merambat menuju kemaluannya dan… ya ampun… kemaluannya sudah sangat basah, kuraba selangkangannya dengan lembut, dan ia sempat tersentak ketika jari-jariku meraba klitorisnya, ketika jariku ingin kumasukkan ke dalam liang kemaluannya dia mencegahku dengan wajah memelas, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin aku melakukannya, mungkin dia masih perawan pikirku. Dia pun berkata, “Sayang… dielus-elus saja yah… please,” katanya sambil memelas. Aku pun hanya mengangguk. Kulumat lagi bibir indahnya sambil mengusap-usap kemaluannya, dia pun juga mulai mengusap kemaluanku. Beberapa saat kemudian aku merasakan sensasi enak yang menjalari tubuhku, hangat dan mulai memusat ke arah kemaluanku.

“Mbak… ahh… ah.. oughhh… terus… jangan berhentii… uuhhh… udah mau keluar nih.”
“Bungggaaa… aaah… Mbak juga udah mau keluar nih… ouuughhh…”
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian kuciumi sekujur tubuhnya yang masih bau sabun, kulitnya putih, mulus ,halus, lembut, tanpa cacat dan aku suka itu. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu kesempatan bagiku. Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia menikmatinya, gumamku dalam hati. Kutindih tubuhnya dengan tubuhku, kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Kembali sensasi menakjubkan itu kurasakan saat tubuhku menghimpit tubuhnya, nafasku menjadi semakin tidak karuan, kedua kemaluan kami saling bergesekan. Oh, aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kuremas kedua payudaranya sambil sesekali kuhisap, berkali-kali ia menjerit lirih. “Ohhh… mmm… uuouugh… Bunga… uuuhh…”jeritnya tertahan. Desahannya itu semakin membuatku kehilangan akal, tanpa pikir panjang kumasukkan kedua jariku ke dalam liang kemaluannya, dan… “Bles…” meskipun liang kemaluannya masih rapat, aku tahu kalau dia sudah tidak perawan, sempat terlintas di pikiranku kenapa dia melarangku melakukannya tadi. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain, dia pun mulai meronta.

Kembali kutindih tubuhnya agar dia tidak bisa berkutik, sembari jariku masih mengobok-obok kemaluannya. Kedua jariku berusaha mencari titik G-spotnya, sampai akhirnya aku menemukannya, kemudian aku tekan kedua jariku. Beberapa saat kemudian Mbak Lina mulai menggeliat-geliat, kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku, tubuhnya mulai mengejang, bahkan pantatnya sampai terangkat, mulutnya masih kubungkam dengan tanganku. Tubuh Mbak Lina mengejang dengan hebat sampai-sampai Mbak Lina memejamkan matanya. Setelah agak mereda, aku segera lepaskan tanganku dari mulutnya. Saat itu aku baru menyadari kalau Mbak Lina menangis, aku pun melepaskan ikatan tangannya dan… “Plakk… plakk…” Mbak Lina langsung menampar wajahku dua kali. Karena aku merasa tidak melakukan suatu kesalahan, aku pun mulai menangis. Belum pernah aku ditampar oleh seorang pun seumur hidupku.

“Hiks… hiks… Bunga… kamu jahat sekali” katanya sambil sesenggukan.
“Mbak… apa salahku…” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.
“Kamu… kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang… jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak… hiks,” katanya sambil menahan tangis.
“Mbak… Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap… jadi Bunga kehilangan kontrol… maafkan aku ya Mbak!” aku mengiba kepadanya.

Mbak Lina tidak memperdulikan ucapanku, dia membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke bantal sambil menangis tersedu-sedu. Aku menjadi serba salah. Aku pun segera berpakaian, kurasa Mbak Lina sekarang lagi ingin menyendiri, jadi pelan-pelan kutinggalkan kamarnya. Aku keluar dari hotel dengan berat hati karena merasa sangat bersalah. Dua jam kemudian aku kembali ke kamarnya, ternyata dia tak mengunci pintu kamarnya, aku pun masuk dengan mengendap-endap, aku takut dia masih marah kepadaku. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang, tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya. Aku pun mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Tapi kemudian ia terbangun, mungkin ia terbangun olehku. Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.
“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.
“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.
“Ya ampun… Mbak belum makan malam nih… temenin Mbak makan yuk!” kata dia.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.

Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan buka sampai malam. Selama makan pun kami saling berdiam diri, tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepulang dari rumah makan itu, Mbak Lina kembali menggandeng tanganku dengan erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Kami kembali menuju hotel dan segera menuju kamar. Begitu kami masuk kamar, Mbak Lina langsung mendudukkanku di bibir ranjang, aku sudah siap jika ia ingin memarahiku lagi, aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap wajahnya. Tapi kemudian tangannya yang halus dan lembut mendongakkan kepalaku, dia menatapku dalam-dalam. Karena merasa takut, tanpa sadar air mataku mulai mengalir.

“Lho Bunga… kenapa kamu menangis?” tanya dia sambil menghapus air mataku.
“Mbak… Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak…!” kataku terisak.
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.
“Bunga… harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu… udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah… sayang,” kata dia sambil mengecup keningku.
“Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini… mmmm… begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu…” katanya memecah suasana.
Dia berkata, “Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.”
“Tapi… tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi…” kataku.
“Iya betul… tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak… kamu mengerti sekarang sayang,” kata dia.

Dia kembali berkata, “Bunga… maukah kamu menjadi kekasihku?” dia memohon sambil berlutut di hadapanku. Sekali lagi aku tidak ingin membuat kesalahan, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku pun mengangguk pelan. Mbak Lina pun bangkit, kemudian dia duduk di pangkuanku, lalu dia melepas t-shirt yang dikenakannya, terpampanglah dua gundukan indah di hadapanku, terbalut BH putih berenda. Kami berpandangan, Mbak Lina tersenyum manja, kemudian dia mengecup bibirku, aku pun tersenyum. Kupeluk tubuh indahnya kemudian kubaringkan dia, kemudian… “Bunga! Jangan ditindih ya… please… habis kamu berat sih,” katanya manja. Aku pun cuma mengangguk, aku lalu berbaring di sampingnya, kubelai rambutnya dengan lembut, kukecup keningnya, bibirnya, kemudian lidahku mulai menelusuri tubuhnya, kucium dadanya, pagutan demi pagutan membuatnya tampak kegelian. Kulepaskan BH-nya yang dari tadi masih menutupi gunung kembarnya, puting susunya tegak berdiri, tampaknya dia sudah sangat terangsang. Kujilati puting susunya satu persatu. “Oooh…!” Mbak Lina mendesah kegelian, aku pun mulai menghisap puting susunya yang sebelah kanan sedang yang kiri kupilin-pilin putingnya dengan kedua jariku. Kali ini Mbak Lina mengeluarkan desahan-desahan yang menggairahkanku, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan gairah yang begitu menggelora.

Setelah cukup puas, kubuka t-shirt beserta BH-ku, kupeluk tubuhnya kemudian kubalikkan tubuhnya sehingga kini ia menindihku. Dia duduk di atas tubuhku. Kini tangannya mulai usil memilin-milin kedua puting susuku sambil tersenyum manja, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya sehingga tubuhnya semakin dekat denganku. Kuraih punggungnya sehingga ia kembali menindihku, kedua kaki kami saling membelit, tangannya masih meremas-remas kedua payudaraku, dia menatapku dalam-dalam, aku tahu apa maksudnya. Bibir kami pun bertemu, saling melumat, lidah kami saling berpilin, dada kami saling bergesekan, aku pun mulai merasakan kehangatan bunga-bunga cinta di antara kami.

Mbak Lina sudah tidak sabar lagi, ia mulai melepas celana jeans beserta celana dalam yang dikenakannya, dia juga melepas pakaian yang masih menempel di tubuhku. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat, kami mulai bergumul di atas ranjang, berguling-guling ke sana kemari. Aroma kewanitaan dari kemaluan kami mulai terasa keras menusuk hidung. Kemaluan kami berdua benar-benar basah, terbukti ketika kami saling menggosokkan kemaluan kami sampai terdengar bunyi berdecak-decak pertanda kemaluan kami sangat becek. Bibirku terus melumat bibirnya, nafasnya mulai tidak teratur, kumasukkan kedua jariku ke kemaluannya, dia pun tak mau kalah dia juga memasukkan kedua jarinya ke dalam liang kemaluanku, aku mulai mengobok-obok kemaluannya sambil terus memeluknya dengan erat. Tidak… sekarang tidak hanya kedua jariku, kini kumasukkan tiga jari ke dalam kemaluannya dan dia pun semakin menggila, tangannya yang satu lagi meremas pantatku dengan kuat, tubuhnya semakin mengejang-ngejang.
“Ooohh… oughhh… aaahhh… Bungaaa… mau keluar nihhh… ooohh…” dia mendesah dengan keras.

Dan aku pun bisa merasakan cairan hangat keluar dari kemaluannya, aroma kewanitaan pun semakin terasa, membuatku semakin menggila. Tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme, tubuhku mengejang dengan hebat, seolah-olah ada yang meledak dalam tubuhku. Kami berdua terkulai lemas dalam pelukan, aku masih sempat melihat dia tersenyum kepadaku, kemudian dia memejamkan matanya dan tidur dalam pelukanku. Keesokan harinya aku terbangun, aku mendapati dirinya masih meringkuk dalam pelukanku, aku sibakkan rambut yang menutupi wajahnya, wajahnya tampak berseri-seri, aku tidak tega membangunkannya, dia begitu cantik dan anggun. Aku pun terus membelainya sampai kemudian ia terbangun. Kukecup bibirnya dengan lembut. “Selamat pagi…” kataku lirih.

Jumat, 28 September 2012

0 Pengalaman Pribadi Dengan Om Om

Suatu siang aku berada di satu toko buku besar. Toko itu baru selesai direnovasi. Pembagian antara seksi buku, stationary, edutainment dan alat olahraga sih jelas. Karena ini adalah toko buku maka seksi buku pastinya mendapat porsi yang paling besar, hampir
separuh dari ruang yang sudah direnov itu diperuntukkan bagi seksi buku. Hanya penempatan buku di rak2 yang dulu teratur sekarang menjadi kacau, paling gak buat aku.

Aku nanya kepada pegawai toko buku itu, merekapun bingung dimana buku komik, misalnya diletakkan. Ya sudah aku browsing saja disemua jenis buku untuk familiarisasi lagi dimana buku tertentu diletakkan. Aku sedang membaca2 buku tentang bagaimana perempuan bisa mencapai klimax berkali2 dalam satu ronde. Seru juga buku itu karena detail menerangkan teknik2nya.
Tiba2 ada yang batuk2 disebelahku. Aku menoleh, ada seorang om2, nggak tua sih, aku menduga umurnya baru 30-40tahun, paling ringgi 40tahun. Dia tersenyum padaku, dan aku pun membalas senyumnya, gak masalah kan membalas senyum seseorang walaupun yang belum kita kenal. Dia bertanya, "Kok serius amat baca buku begituan". "Begituan gimana", jawabku. "Ya buku itu kan buat yang udah nikah, emangnya kamu dah nikah". "Ya belum sih,
tapi buat pengetahuan kan gak ada salahnya kan". "Perkenalkan aku Roni, kamu?" katanya sambil mengulurkan tangannya. "Ines", jawabku sambil menyambut uluran tangannya. Dia menggenggam tanganku, jempolnya mengelus2 punggung tanganku yang digenggamnya, sepertinya ini bukan sekedar jabatan tangan deh. Aku gak masalah dengan kelakuannya, lelaki memang suka cari perhatian.

"Kamu seksi banget deh", dia mulai mengeluarkan jurus gombalnya. "Seksi, biasa aja tuh". Memang saat itu aku hanya mengenakan tanktop ketat sepinggang dan celana pendek yang juga ketat sehingga tonjolan2 menggairahkan yang ada di badanku menjadi terekspose semuanya. Toketku yang besar, pinggangku yang ramping dan pantatku yang membulat.

Kalo aku bergerak, tanktopku terangkat sehingga pinggang dan juga puserku jadi terbuka, ini tentunya menambah gairah lelaki yang ngeliat. Roni ganteng juga sih, perawakannya tegap atletis dengan dada yang bisang dan perut yang tidak membuncit seperti umumnya lelaki pada usia tersebut.

"Pak, eh om, Ines manggil apa neh". "Panggil om aja deh, kalo dipanggil pak rasanya formal dan jadi tua deh". "Ok deh, om sering olahraga ya, bodinya juga asik tuh". "Asik gimana". "Iya, atletis dan gak gendut. Ines gak suka ama lelaki yang gendut, gak bisa jaga
penampilan. Mendingan yang gendut yang lainnya", aku sengaja mancing2 dia. "Yang lain yang mana?" "Yang suka diumpetin itu lo, kalo itu gendut kan enak", aku makin menjurus lagi. "Apanya yang diumpetin?". "Ah om pura2 gak tau neh. Om mo nyari buku juga toh". "Ah enggak, om dah tertarik ama kamu sejak ketemu kamu di atrium mal, makanya om buntutin kamu sampe kesini". "Berburu nih ye", godaku. "Kamu mo beli buku itu, ntar om beliin". "Boleh deh om".

"Dah makan belon". "Belon om, mo nraktir?". "Yuk kita makan aja, kamu mo makan apa?' "Kayanya Ines dah lama gak makan shabu2 deh om". "Hah kamu suka nyabu toh, he he", dia ketawa. Dia membayar buku yang tadi kubaca2, diberikannya kepadaku. Aku digandengnya menuju ke resto yang menyediakan makanan ala Jepang itu. Dia memilih tempat dipojok, "Biar ada privacynya", katanya. "Emangnya om mo ngomongin yang rahasia2 ya". "Enggak, cuma mo kenal kamu lebih dalem aja". Sambil makan kita ngobrol kesana kesini. "Tadi kamu ngomong yang gendut yang diumpetin, apaan seh, aku bener lo gak ngerti". "Gak ngerti atau
pura2 gak ngerti". "Bener gak ngerti kok, apaan seh". "Kalo perut gendut mengganggu penampilan lelaki, om setuju kan". "Setuju banget, trus yang gendut yang diumpetin apa", penasaran sekali dia. "Kalo bawahnya perut yang gendut kan enak, kan tempatnya tersembunyi". "O, itu toh maksud kamu, emangnya kamu dah ngerasain enaknya yang dibawah perut lelaki ya. Sering ya Nes". "Sering sih enggak om", kataku terus terang. "Om punya gendut gak". "Susah neranginnya, mesti diliat langsung. Kamu mo liat?" "Ngapain juga Ines ngeliat punya om, ntar om kepingin lagi". "Sekarang ngeliat kamu seksi gini, aku dah napsu banget Nes",
diapun mulai to the point ngomongnya. "Abis ini kamu mo kmana?" tanyanya setelah kita selesai makan.

Dia minta billnya. "Gak ada tujuan om, napa, om mo ngajak Ines kemana, mo nunjukin yang gendut yang laen ya om". "Iya, kamu mo liat kan. Aku sebenarnya dari Surabaya, aku miting disini, kemarin dah selesai mitingnya, makanya aku jalan2 aja di mal sebelum balik lagi ke Surabaya, kebetulan dekat dengan hotel dimana aku nginep. Kata bellboynya disini banyak abgnya. Gak taunya bener, ketemu kamu yang seksi gini". Dia membayar billnya dan kemudian mengajakku keluar resto.

Ketika melewati toko yang khusus jual lingerie, "Nes, daleman kamu seksi juga gak". "Napa om mo beliin Ines lingeri seksi, Ines gak nolak lo om". Aku langsung diajaknya masuk ke toko itu. "Beli yang tipis dan minim Nes", bisiknya. Sebetulnya dalemanku sudah berbentuk bikini tipis dan minim dan cuma ditaliin. Aku mencari daleman model bikini laennya. Dia malah bantu milihin, dan aku dibelikan 2 set. "Kamu gak beli pakean luar skalian Nes".
Mumpung ada yang nawarin ya knapa enggak kan. Segera kita menuju de dept store. Aku dibelikan jeans dan tanktop yang ketat, kegemaranku dan pastinya kegemaran lelaki yang suka menelanjangi aku, mula2 dengan matanya. Setelah itu dia mengajakku ke supermarket yang ada di mal tersebut. Dia membeli minuman kaleng, makanan kecil, coklat, permen, buah2an dan kue2. "Buat apa seh om, banyak banget belinya", tanyaku. "Buat di hotel, beli di hotel kan mahal". “Abis ini kita mau kemana om”, tanyaku, setelah selesai belanja dan berada digerbang mal. “Ke hotel tempat aku nginep ya”, jawabnya.

Dia manggil taksi menuju ke hotelnya, aku ditariknya masuk kedalam taksi tanpa menunggu persetujuanku mau atau enggak ikut ke hotelnya. Di dalam taksi, dia selalu mengelus2 pahaku yang tersingkap lebih dari separuh karena celana pendekku tertarik ke atas. Hal ini perlahan2 membuatku terangsang juga, toh om Roni ganteng juga dan tipe lelaki idealku. Apalagi dia dah ngebelanjain aku, jadi sekarang giliranku memenuhi hasratnya yang sudah
ditunjukkan sejak tadi di toko buku. Saat itu sudah menjelang sore.

Di kamar, aku dirangkulnya. Sebuah ciuman mendarat dipipiku. Aku berdebaran. DIa menggandengku dan duduk di sofa empuk yang ada di kamar. Kamar hotelnya cukup besar, berisi satu tempat tidur besar dan seperangkat sofa, selain meja rias. Dia mengambil
minuman kaleng yang dibelinya, dibukanya dan diberikan kepadaku. “Ayo minum, santai saja, mau mandi dulu enggak, kan tadi panas diluar”, katanya sambil menepuk2 pahaku. Sambil tersenyum-senyum dia berlalu ke kamar mandi. Gak lama kemudian, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan bersarungkan handuk dipinggangnya.

“Gantian deh mandi biar segar”. Di kamar mandi, di bawah shower, aku mengelus2 toketku dengan busa sabun, demikian pula dengan jembut dan no nokku, sehingga napsuku menjadi berkobar2. Selesai mandi aku memakai dalemanku yang seksi yang tadi dibeliin,
bra dan CD mini yang tipis model bikini, sehingga bra hanya ditalikan di belakang leher dan punggungku, sedang CD mininya ditalikan di kiri dan kanannya. Karena branya tipis, otomatis pentilku yang sudah mengeras menonjol sekali, demikian juga jembutku yang lebat sangat berbayang dengan CD tipis itu. Karena bentuknya yang mini, jembutku menyembul di bagian atas, kiri dan kanan CD ku.

Dia yang sedang duduk di sofa membelalakkan matanya ketika melihat aku keluar dari kamar mandi hanya berbalut bikini tipis dan seksi itu. “Lama sekali sih mandinya, pasti deh ngelus2 diri sendiri, ya. Kamu cantik sekali Nes, seksi sekali” katanya.

Aku duduk disebelahnya dan menjawab “Habis om sih mandinya gak ngajak2, sehingga terpaksa Ines ngelus2 sendiri. om suka kan ngeliat Ines pakai bikini seperti ini”. “Suka banget, kamu napsuin deh Nes”. “Udah ngaceng dong om”. Aku yakin melihat pemandangan yang menggairahkan ini pasti mengungkit nafsu nya. kon tolnya terlihat mulai bergerak-gerak dibalik handuk yang disarungkan dipinggangnya. ”Ines tahu, pasti om suka, tak usah khawatir, malem ini Ines sepenuhnya milik om.”

Ia lalu mencium pipiku. Nafasnya menderu-deru. Dalam hitungan detik mulut kami sudah lekat berpagutan. Aku direngkuh dengan ketat ke dalam pelukannya. Tangannya mulai bergerilya meremas2
toketku. Pentilku yang sudah mengeras dipelintir2 nya dari balik bra tipisku. Ini membuat rangsangan yang lebih hebat lagi buat aku. Aku menggeliat-geliat sambil mulutku terus menyambut permainan bibir dan lidahnya. Lidahnya menerobos mulutku dan bergulat dengan lidahku.

Tanganku pun aktif menerobos handuk yang dikenakannya dan me remas2 kon tolnya yang sudah mulai ngaceng itu. Membalas gerakanku itu, tangan kanannya mulai merayapi pahaku yang mulus. Dia menikmati kehalusan kulitku itu. Semakin mendekati pangkal pahaku, aku membuka pahaku lebih lebar, biar tangannya lebih leluasa bergerak.

Peralahan-lahan tangannya menyentuh gundukan no nokku yang masih tertutup CD bikini tipis. Jarinya menelikung ke balik CDku dan menyentuh bibir no nokku dan menggosok2 it ilku. Aku mengaduh tetapi segera dibungkam oleh permainan lidahnya. Badanku mulai
menggeletar menahan nafsu yang semakin meningkat.

Tanganku terus menggenggam kon tol yang besar dan panjang itu. kon tol segede inilah yang membuat aku menjadi ketagihan. “om, besar banget sih kon tolnya, dipakai in obat apa sih sampai besar begini”, kataku sambil mengocok lembut kon tolnya. “Kamu sukakan sama kon tolku, katanya suka ama yang gendut yang diumpetin”, bukan menjawab dia malah balik bertanya. “Suka banget om, kalau sudah masuk semua rasanya no nok Ines sesak deh kemasukan kon tol om, apalagi kalau udah om enjot, gesekan kon tol om ke no nok Ines terasa banget. Ines udah gak sabar nih om, udah pengen ngerasain kon tol om nggesek no nok Ines”, jawabku penuh napsu.

Kocokan lembut jari-jariku itu membuat kon tolnya semakin ngaceng mengeras. Dia mengerang-ngerang nikmat. Ia mulai menjilati dagu dan leherku dan sejalan dengan itu bibir mungilku tu menyentuh pentil nya. Lidahku bergerak lincah menjilatinya. Dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tanganku makin cepat mengocok kon tolnya yang semakin berdenyut-denyut ngaceng.
“Ayo ke ranjang”, bisiknya, “Kita tuntaskan permainan kita.”

Aku bangkit berdiri, Dia memelukku. Diangkatnya tubuhku dan lidahnya yang terus menerabas leherku membuat nafasku terengah-engah nikmat. Toketku lembut menempel lekat di dadanya. Aku direbahkan di tempat tidur yang lebar dan empuk, Dia menarik pengikat bra dan CD ku. Aku biarkan dia melakukan semuanya sambil ber desah2 menahan napsuku yang makin
menggila. Setelah tak ada selembar benangpun yang menempel di tubuhku, ia mundur dan memandangi tubuhku yang telentang bertelanjang bulat, bersih dan wangi sabun karena habis mandi. Ia memandangi rambutku yang kepirangan tergerai sampai kepundak, toketku yang padat dengan pentil yang sudah mengeras, perutku yang rata dengan lekukan pusernya, pahaku yang mulus dengan pinggul yang bundar digantungi oleh dua bongkah pantat yang bulat padat dan di sela paha itu terlihat gundukan hitam lebat jembutku. “Ngapain om hanya dilihatin saja,” protesku. “Aku kagum akan keindahan tubuhmu Nes”, jawabnya.

“Semuanya ini milik om malem ini”, kataku sambil merentangkan tanganku. Dia mendekatiku dan duduk dipinggir tempat tidur. Aku dipeluknya dengan erat. “om, Ines mau menjilati om, gantian ya”, kataku. Dia berbaring, kemudian mulutku mulai menjelajahi seluruh dada termasuk pentilnya dan perutnya, terus menurun ke bawah mendekati pusar dan pangkal pahanya. Dengan lincah aku lepaskan belitan handuk dipinggangnya. kon tolnya yang sudah tegang itu mencuat keluar dan berdiri tegak. Dengan mulut kutangkap kepala kon tolnya itu. Lidahku dengan lincah memutar-mutar kon tolnya dalam mulutku. Dia mengerang-ngerang nikmat menahan semua sensasi itu. Puas mempermainkan kon tolnya aku merebahkan diri di sampingnya. Dia mulai beraksi.

Disergapnya toket kananku sembari tangan kanannya meremas-remas toket kiriku. Bibirnya mengulum pentil toketku yang mengeras itu. Toketku juga mengeras diiringi deburan jantungku. Puas toket kanan mulutnya beralih ke toket kiri. Lalu perlahan tetapi pasti dia turun ke perutku. Aku menggelinjang-linjang menahan desakan birahi yang semakin menggila. Dia menjilati perutku yang rata dan dijulurkannya lidahnya ke dalam pusarku. “Auu..” aku
mengerang, “Oh.. Oh..Oh..” jeritku semakin keras.

Mulutnya semakin mendekati pangkal pahaku. Perlahan-lahan pahaku membuka dengan sendirinya, menampakkan no nokku yang telah merekah dan basah. Jembut yang hitam lebat melingkupi no nok yang kemerah-merahan itu. Dia mendekatkan mulutnya ke no nokku dan dengan perlahan lidahnya menyuruk ke dalam no nokku yang telah basah membanjir itu.

Aku menjerit dan spontan duduk sambil menekan kepalanya sehingga lidahnya lebih dalam terbenam. Tubuhku menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Pantatku menggeletar hebat sedang pahaku semakin lebar membuka. “Aaa.. Auu.. Ooo..”, jeritku keras. Dia terus mempermainkan it ilku dengan lidahnya. Aku menghentakkan pantatku ke atas dan memegang kepalanya erat-erat. Aku melolong keras.

Pada saat itu kurasakan banjir cairan no nok ku. Aku sudah nyampe yang pertama. Dia berhenti sejenak membiarkan aku menikmatinya. Sesudah itu mulailah dia menjelajahi kembali bagian tersensitif dari tubuhku. Kembali erangan suaraku terdengar tanda napsuku
mulai menaik lagi. Tanganku menjulur mencari-cari batang kon tolnya. kon tolnya telah ngaceng sekeras beton. Aku meremasnya. Dia menjerit kecil, karena nafsunya pun sudah diubun-ubun butuh penyelesaian. Aku didorongnya sehingga rebah ke kasur empuk.

Perlahan-lahan dia naik ke atasku. Aku membuka pahaku lebar-lebar siap menerima masuknya kon tolnya. Kepalaku bergerak-gerak, mulutku terus menggumam. Mataku terpejam menunggu. Dia menurunkan pantatnya. kon tolnya berkilat-kilat dengan kepalanya
yang memerah siap menjalankan tugasnya. Dia mengusap-usapkan kon tolnya di bibir no nokku. Aku semakin menggelinjang. “Cepat om. Ines sudah nggak tahan!” jeritku. Dia menurunkan pantatnya perlahan-lahan. Dan.. BLESS! kon tolnya menerobos no nokku
diiringi jeritanku. Aku tidak perduli apakah tamu disebelah kamar mendengar jeritanku atau tidak.

Dia berhenti sebentar membiarkan aku menikmatinya. Lalu ditekannya lagi dengan keras sehingga kon tolnya yang panjang dan besar itu menerobos ke dalam dan terbenam sepenuhnya dalam liang no nokku. Aku menghentak-hentakkan pantatku ke atas agar kon tolnya masuk lebih dalam lagi. Aku terdiam sejenak merasakan sensasi yang luar biasa ini. Lalu perlahan-lahan dia mulai mengenjotkan kon tolnya. Pantatku kuputar-putar untuk memperbesar rasa nikmat.

Toketku tergoncang-goncang seirama dengan genjotannya di no
nokku. Mataku terpejam dan bibirku terbuka, berdesis-desis menahankan rasa nikmat. Desisan itu berubah menjadi erangan dan kemudian akhirnya menjadi jeritan. Dia membungkam jeritanku dengan mulutnya. Lidahku bertemu lidahnya. Sementara di bawah sana kon tolnya leluasa bertarung dengan no nokku. “OH..”, erangku, “Lebih keras om, lebih keras lagi.. Lebih keras.. Oooaah!” Tanganku melingkar merangkulnya ketat. Kuku-kukuku membenam di punggungnya. Pahaku semakin lebar mengangkang. Terdengar bunyi kecipak lendir no nokku seirama dengan enjotan kon tolnya.
”Aku mau ngecret, Nes”, bisiknya di sela-sela nafasku memburu. “Ines juga om”, sahutku, “Di dalam aja om ngecretnya. Ines ingin om ngecret di dalam.” Dia mempercepat enjotan kon tolnya. Keringatnya mengalir dan menyatu dengan keringatku. Bibirnya ditekan ke bibirku. Kedua tangannya mencengkam kedua toketku. Diiringi geraman keras dia menghentakkan pantatnya dan kon tolnya terbenam sedalam-dalamnya.

Pejunya memancar deras. Aku pun melolong panjang dan menghentakkan pantatku ke atas menerima kon tolnya sedalam-dalamnya. Kedua pahaku naik dan membelit pantatnya. Aku
pun mencapai puncaknya. kon tolnya berdenyut-denyut memuntahkan pejunya ke dalam no nokku. Sekitar sepuluh menit kami diam membatu mereguk semua detik kenikmatan itu.
Lalu perlahan- lahan dia mengangkat tubuhnya. Dia memandangi wajahku yang berbinar karena napsu yang telah terpuaskan. Ia tersenyum dan membelai wajahku. “om hebat sekali”, kataku. “Kamu juga luar biasa Nes”, sahutnya, “Aku sungguh puas karena kamu gak kalah ama perempuan Madura sekalipun. Empotanmu kerasa banget deh. Kamu tidak menyesal kan ngen tot denganku?” “Tidak”, kataku, “Ines malah pengen dipuasin lagi.” “Jangan kawatir, stok pejuku masih banyak” jawabnya. Dia mencabut kon tolnya dan rebah di sampingku.

Kami beralih ke kamar mandi. Dia memandikanku di shower. Kedua tangannya menyabuniku seluruh tubuhku, toket, puser, jembut dan no nokku menjadi sasaran elusan tangannya yang dipenuhi busa sabun. Gesekan, rabaan dan remasan tangannya akhirnya
merangsang napsuku kembali. Aku heran juga, mengapa napsuku cepat sekali naik, padahal dia baru selesai mengen toti ku. “om, Ines sudah napsu lagi, pengen ngerasain kon tol om keluar masuk di no nok Ines lagi”, kataku sambil meremas2 kon tolnya yang juga mulai mengeras. “Iya Nes, sambil ngeremas2 toketmu, aku juga napsu, main lagi yuk, tapi di kamar mandi ya”., jawabnya.

Luar biasa staminanya, dalam waktu singkat kon tolnya sudah ngaceng lagi, keras sekali kon tolnya ketika ku kocok2. Dia duduk di atas closet dengan kon tolnya yang sudah ngaceng mengacung tegak ke atas. Aku mengangkangkan pahaku dan mendekatinya dari depan, siap-siap untuk dien tot. Aku sudah duduk merapat di pahanya. kon tolnya yang sudah ngaceng tanpa halangan langsung menerobos no nok ku, bersarang sedalam-dalamnya.

Aku disuruhnya segera menggoyang pantatku. Terasa nikmat sekali. Kedua toketku diremas2nya dengan penuh. Dia juga mengenjotkan kon tolnya kedepan kebelakang, walaupun dalam gerakan yang terbatas, tapi ini membuat aku mengerang keras dan sudah
terasa mau nyampe lagi. Hebat benar dia merangsang napsuku, baru sebentar goyang sudah mau nyampe saking nikmatnya.

Aku menjadi semakin liar dalam menggoyang pantatku. Aku sudah makin terangsang sehingga akhirnya badanku mengejang-ngejang diiringi erangan kenikmatan. “Auu.. om!” jerit ku. Untuk beberapa saat kami terdiam. Ia memelukku erat-erat. “Nes, aku belum ngecret kok kamu udah nyampe”, katanya. “Habis, nikmat banget sih rasanya kon tol om nyodok2 no nok Ines”, jawabku terengah. “Kita terusin ya Nes”, aku hanya mengangguk lemas.

Dia mengajakku berdiri dan menyuruhku membungkuk di wastafel dan membuka pahaku lebar2. Dia mendekat dari belakang. Tangannya menyapu lembut pantatku yang mulus tapi padat. Aku menggigit bibirku dan menahan napas, tak sabar menanti masuknya kon tolnya yang masih keras. Tangannya melingkari kedua pahaku lalu diarahkannya kon tolnya ke no nok ku. Perlahan-lahan kepala kon tolnya yang melebar dan berwarna merah mengkilap itu
menerobos no nokku. Aku mendongak dan mendesis kenikmatan. Sejenak dia berhenti dan membiarkan aku menikmatinya, lalu mendadak dihentakkan pantatnya keras ke depan.

Sehingga terbenamlah seluruh kon tol nya di no nokku. “Aacchh..!!”, aku mengerang keras. Rambutku dijambaknya sehingga wajahku mendongak ke atas. Sambil terus menggenjot no nok ku, tangannya meremas2 kedua toketku yang berguncang2 karena enjotannya yang keras, seirama dengan keluar masuknya kon tolnya di no nokku. Terdengar bunyi kecipak cairan no nokku, aku pun terus mendesah dan melenguh. Mendengar itu semua, dia semakin bernafsu. Enjotan kon tolnya dipercepat, sehingga erangan dan lenguhan ku makin menjadi2. “Oohh..! Lebih keras om. Ayo, cepat. Cepat. Lebih keras lagii!” Keringatnya deras menetesi punggung dan dadaku. Wajahku pun telah basah oleh keringat. Rambut ku semakin keras disentak. Kepalaku semakin mendongak.

Dan akhirnya dengan satu sentakan keras, dia membenamkan kon tolnya sedalam-dalamnya. Aku menjerit karena kembali nyampe untuk yang kedua kalinya. Kedua tangannya terus meremas2 toketku dengan penuh nafsu. Ia pun makin keras menghentakkan kon tolnya keluar masuk no nokku sampai akhirnya pejunya menyemprot dengan derasnya di dalam no nokku. Rasanya tak
ada habis-habisnya. Dengan lemas aku rebah di wastafel dan dia menelungkup di atas punggungku. Beberapa saat kami diam di tempat dengan kon tolnya yang masih menancap di no nokku.

Kemudian dia membimbingku ke shower, menyalakan air hangat dan kami berpelukan mesra dibawah kucuran air hangat. Akhirnya terasa juga perut lapar yang sudah minta diisi. Kembali lagi enersiku terkuras ngelayani si om. Dia keluar lebih dulu, terdengar dia menelpon room service untuk memesan makan malem dan minumannya.

Kemudian dia kembali ke kamar mandi dan memelukku yang masih berada dibawah shower air hangat. “Nes, nikmat sekali ngen tot dengan kamu, kamu dah pengalaman banget ya ngeladenin lelaki”, katanya. “Biasa aja om, Ines juga nikmat sekali, masih ada ronde ketiga kan om?” harapku. “Pasti dong”, jawabnya sambil tersenyum. Terdengar bel pintu, dia menyarungkan handuk di pinggangnya dan keluar kamar mandi, ternyata room service.
Setelah itu dia kembali ke kamar mandi, shower dimatikan dan badanku dikeringkannya dengan handuk. “Nes, kamu pake daleman yang satunya ya?” “Iya om”, jawabku. Aku pun keluar dari kamar mandi bersama dengan dia, terbungkus handuk. Aku mengambil
dalemanku yang kedua dan kembali ke kamar mandi. Kali ini aku memakai bra tipis model bertali dan g string mini yang juga bertali, keduanya tipis sehingga sangat terbayang bagian2 tubuhku yang ditutupinya. Karena g string ku lebih minim daripada CD sebelumnya, praktis jembutku yang lebat itu berhamburan ke mana2.

Aku keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa disebelah nya. Dari jendela kamar terlihat lampu2 sudah menyala karena memang tidak terasa sudah gelap di luar sana. Matanya ber binar2 memandangi aku dengan CD yang lebih minim lagi. Kelihatan sekali dia berusaha
menahan napsunya karena perut sudah keroncongan. Kami makan malam sambil berpelukan. Nyaman rasanya dalam keadaan yang hampir telanjang dipeluk olehnya. Aku menyandar di dadanya yang bidang. “om, Ines bahagia sekali dengan om, mau rasanya
Ines jadi istrinya om, supaya bisa ngerasaain dien tot sampai lemas”, sambil mengelus2 pentil nya. Dia mengangkat daguku dan mencium bibirku dengan mesra sekali.

Selesai makan, kembali kamu berpelukan di tempat tidur walaupun seprei sudah kucel akibat pertempuran seru tadi siang, toh sebentar lagi kami akan membuat seprei itu lebih kucel lagi. Dia merangkulku dan mencium bibirku. Tangannya mulai mengelus toketku yang montok, desah nafas nikmat terdengar dari mulutku. Aku pun tidak tinggal diam, tanganku menerobos handuk dan menggenggam kon tolnya yang sudah ngaceng sekeras tank baja. “Besar banget kon tolnya om”, kataku. “Memangnya kamu enggak pernah ngelihat kon tol segede ini”, katanya sambil meringis2 kenikmatan karena aku mulai meremas2 kon tolnya. “Ngelihat yang gede sih sering oom, tapi yang segede dan segemuk ini sih Ines belum pernah lihat.
no nok Ines sudah empot2an om, udah pengen dienjot”, kataku yang juga sudah mulai napsu.

Dia makin getol meremas2 toketku dari luar braku. Kayanya dia mau aku yang aktif lebih dahulu. aku segera melepas lilitan handuk dia
sehingga kon tolnya yang besar panjang itu langsung tegak menantang. Mulut ku langsung menyergapnya, kon tolnya yang sudah tegang itu langsung kuemut. Cukup lama aku mengemut kon tolnya, sampai akhirnya dia sudah tidak dapat menahan napsunya lagi.

Segera bra dan cdku dilepas, sehingga aku sudah bertelanjang bulat. Dia menarik aku ke tempat tidur, kakinya diangkat dan digesek-gesekkan diatas paha ku, sementara tangannya kembali meremas toket ku yang pentilnya sudah menonjol keras. Perlahan dia turun menciumi leher ku dan memutar-mutarkan lidahnya di pentil toketku, sementara tangannya menjelajah ke pangkal paha ku, menyibak jembutku yang hitam lebat.

Dia mengusap bibir no nok ku sehingga aku menggelinjangkan pinggulku. Aku memejamkan mata menikmati sentuhan dan rangsangannya sambil meremas2 perlahan kon tolnya. Dia
memainkan ujung jarinya menyapu bibir no nok ku yang sudah membasah. Pentil ku terus dijilatinya bersamaan dengan menggosok perlahan perlahan it il ku dengan ujung jari telunjuknya. Serta merta aku menggoyangkan pantat dan pinggul, menggeleparkan dan membuka lebar paha dan membusungkan dada, sementara tanganku menggenggam erat kon tolnya yang mengeras dan berdenyut-denyut. “Uuff oom, diapakan tubuhku ini,” aku mengerang menahan kenikmatan. Tubuhku menggelinjang keras sekali, paha ku bergetar hebat dan kadang menjepit tangannya dengan erat saat jarinya masih menyentuh it il ku.
kon tolnya terus kucengkeram dengan keras.

ia juga terus meremas perlahan toket ku yang tambah mengeras dan membusung itu dengan tangan kirinya, sementara tangan
kanannya terjepit diantara kedua paha ku. aku terus meremas kon tolnya, tangan satunya memeluknya erat , sementara paha dan kakiku menggelepar keras sekali hingga sprei putih itu berserakan tak karuan, aku sudah nyampe sebelum dien tot. Memang dia luar biasa kalau merangsang cewek. anpa berhenti it il ku terus dimainkan pelan. Pentil ku terlihat menonjol keras kecoklatan, aku sudah terangsang kembali.

Paha kubuka lebar-lebar. no nokku basah, demikian pula jembut hitam lebat di seputarnya. Dia segera menaiki aku, kon tolnya yang sudah menegang diarahkan ke no nok ku. Ujung kon tolnya menguak perlahan-lahan bibir no nok ku. aku mendesah nikmat ketika dia
perlahan-lahan menyuruk masuk. kon tol yang besar itu menerobos no nok ku yang telah basah berlendir. Ketika separuh kon tolnya telah menerobos no nok ku, dia berhenti sejenak dan membiarkan aku menikmatinya.

Tanganku meremas-remas kain seprei. Dari mulutku keluar desah-desah nikmat.Mendadak dia menyodokkan kon tolnya dengan keras ke arah ku. kon tolnya yang besar dan panjang itu langsung menerobos no nok ku sehingga tertanam sepenuhnya. aku tersentak dan membelalakkan mata sambil mengerang hebat. “Aaoohh oom”, erang ku penuh kenikmatan.

aku menhentak2kan pantatku ke atas untuk menerima kon tolnya sepenuhnya. Pahaku yang membelit pinggangnya. Setelah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada ku untuk menikmati sensasi ini, dia mulai bergerak. kon tolnya dienjotkan maju mundur. Mula-mula perlahan-lahan, lalu bergerak makin cepat. Tubuh ku bergetar-getar seirama dengan enjotan kon tolnya. Mulut ku terbuka dan mendesis-desis.

Dia segera melumat bibir ku dan aku membalasnya. Tubuhnya
mulai berkeringat, menetes dan menyatu dengan keringat ku.
aku membuka paha lebar-lebar sehingga dia dapat leluasa menggenjot no nok ku. Terdengar kecipak bunyi cairan no nok ku karena sodokan kon tolnya. “Ines mau nyampe om” erang ku. “Ayo, om.. Lebih keras! Auu!!” Dia mempercepat gerakannya dan dalam hitungan dua menit, aku menjerit sekeras-kerasnya sambil menghentak-hentakkan pantatku ke atas. Tubuhku menggeletar karena rasa nikmat yang luar biasa. Pahaku ketat membelit
pinggangnya dan tanganku memeluknya dengan erat. Desah puas terdengar dari mulutku.

Langsung dia menyuruh aku menungging, dia rupanya ingin melakukan lagi doggie style seperti yang dilakukannya di kamar mandi beberapa saat yang lalu. Langsung saja diarahkannya kon tolnya ke arah no nok ku. Jembutku yang hitam lebat itu disibaknya tampaklah bibir no nokku yang berwarna merah muda dan basah berlendir. Aku menurunkan kepalaku hingga bertumpu ke bantal. Pantat kuangkat. Aku meremas ujung-ujung bantal dengan nafasnya berdesah tak teratur. Bulu-bulu halus tubuhku meremang, menantikan saat-saat sensasional ketika kon tolnya akan menerobos no nokku. Dia makin merapat. Dia mengelus-elus kedua belahan pantatku.

Perlahan-lahan dia mempermainkan jembut lebat disekitar no nokku yang sudah basah itu dan kemudian menggesek it ilku. Pantatku bergetar menahan rangsangan tangannya. Dia mengarahkan kon tolnya yang masih sangat keras itu ke arah no nok ku. Diselipkannya
kepala kon tolnya di antara bibir no nokku. Aku mendesah.

Kemudian perlahan tapi pasti dia mendorong kon tolnya ke depan. kon tolnya menerobos no nok ku. Aku menjerit kecil sambil mendongakkan kepalaku ke atas. Ketika aku tengah mengerang-erang dan menggelinjang-gelinjang, mendadak dia menyodokkan kon tolnya ke depan dengan cepat dan keras sehingga kon tolnya meluncur ke dalam no nokku. Aku tersentak dan menjerit keras. “Aduh om, enak!” jerit ku. Dia mempercepat enjotan kon tolnya
di no nokku. Semakin keras dan cepat enjotannya, semakin keras erangan dan jeritanku. “Aa..h.!” jerit ku nyampe. Aku terkapar di tempat tidur telungkup, sementara dia belum juga ngecret.

Kemudian aku ditelentangkan dan dia menaiki tubuhku, pahanya menempel erat dipahaku yang mengangkang. Kepala kon tolnya ditempelkan Ke it ilku. Sambil menciumi leher, pundak dan belakang telingaku, kepala kon tolnya bergerak-gerak mengelilingi bibir no
nokku yang sudah basah. Aku merem melek menikmati kon tolnya di bibir no nokku, akhirnya diselipkannya kon tolnya. “Aah”‘ jeritku keenakan. Aku merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit dimasukkannya kon tolnya. Aku menggoyangkan pantatku sehingga kon tolnya hampir seluruhnya masuk. “om enjot dong kon tolnya, rasanya nikmat sekali”.

Perlahan dia mulai mengenjot kon tolnya keluar masuk no nokku. Aku menarik2 sprei tempat tidur saking enaknya, sementara paha ku kangkangin lebar-lebar, hingga akhirnya kakiku melingkar di pantatnya supaya kon tolnya masuk sedalam-dalam ke no nokku. Aku berteriak-teriak dan merapatkan jepitan kakiku di pantatnya, sambil menarik kuat-kuat sprei tempat tidur.

Dia membenamkan kon tolnya seluruhnya di dalam no nokku. “om, aku nyampe lagi.. Ahh.. Ahh.. Ahh,” jeritku. Beberapa saat kemudian, dia membuka sedikit jepitan kaki ku dipantatnya, paha ku dibukanya lebar2 dan akhirnya dengan cepat di enjotnya kon tolnya
keluar masuk no nokku. Nikmat sekali rasanya. setelah delapan sampai sembilan enjotan kon tolnya di no nokku dan akhirnya kurasakan ada sesuatu yang meledak dari dalam kon tolnya. Croot.. Croot.. Croot.. Croot.. “Nes, aku keluar”, erangnya.

Pejunya muncrat banyak sekali memenuhi no nokku. Tanganku mencekal pahaku dan menarik erat-erat ke arah kon tolnya, sehingga kon tolnya terbenam makin dalamnya di no nok ku. Aku bersimbah keringat, keringatnya yang bercampur dengan keringatku sendiri. Aku mencengkam seprei kuat-kuat, menahan rasa nikmat yang melanda sekujur tubuhnya. Dia membiarkan kon tolnya tetap menancap di no nokku dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Kami berpagutan erat. “Oh! nikmatnya!” kataku. “om luar biasa ya, udah ronde ketiga, bisa bikin Ines 2 kali nyampe, dan ngecretnya tetap banyak”. Dia mencabut kon tolnya dari no nokku. Pejunya bercampur cairan no nok ku, menetes membasahi pahaku. Kami rebah di tempat tidur. Aku mencium pipinya, kami hanya
berbaring diam merasakan kenikmatan yang masih membekas. Akhirnya aku terlelap karena kelelahan
.
Ketika terbangun matahari dan mencorong masuk ke kemar, karena korden jendelanya dah dia buka. Kulihat dia sudah rapi, di call room service untuk pesan makan pagi. aku bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan sisa2 pertempuran dahsyat semalem. aku keluar mengenakan pakean yang dia belikan semalem. "kamu cantik Nes, sexy banget lagi". Ketika dia akan memelukku, ting tong, bel berbunyi (saved by the bell kata grup bgs arawahum). Sarapan dianter. Kami segera menyantap makanan pagi itu.

Selesai makan dia merangkul bahuku dan mencium pipiku. “Terima kasih Nes, terima kasih buat malam yang sangat nikmat. Laen kali kalo aku ke Jakarta kita maen lagi ya. Atau kalo kamu ke Surabaya call aku aja, kita bisa mengulangi malam yang nikmat ini. “Harusnya Ines yang berterima kasih ke om, karena om sudah memberikan kenikmatan yang sangat buat Ines, dan beliin Ines macem2 lagi". Pertemuan usai karena dia sudah harus ke airport untuk terbang kemabli ke Surabaya. Berawal di tokobuku dan berakhir terkapar diranjang, lemes tapi nikmaaat banget banget.

0 Pesta Seks Dengan Tante

Jam 21:30 rencananya gw waktu itu mau nemuin tante gw (tante gw asli yah hehehe) di Pondok Indah Mall 2...tp tiba2 tante gw telpun n bilang ga jadi ketemuan di Pondok Indah Mall 2 karena dia harus jalan lagi ke rumah temennya di pondok indah juga...tp saat itu tante gw malah bilang ke gw...km nyusul aja ke sini...rame ko di sini kata tante gw...

Ya udah tanpa pikir panjang, gw puter haluan deh keluar dari parkiran Pondok Indah Mall 2...gw langsung di sms in alamat rumah temennya itu...sekitar 10 menit dari situ akhirnya gw nyampe di tempat temennya tante gw...suasana rumah sangat hening sekali, gw pikir waktu itu "ah krn rumahnya besar begitu kali yah makanya kliatan sepi begitu"...tp begitu gw parkir di rumah tersebut...2 orang ambon nyamperin gw n bilang "ada keperluan apa mas"...bete juga gw di gituin ma mereka ber 2...dengan sewotnya gw bilang aja gw di suruh ke rumah ini ma tante yuli (nama samaran yahhh ehehehe)...

Akhirnya mereka mempersilahkan gw untuk masuk...begitu nyampe pintu rumahnya gw d bukain ma ce yg busyyeeettt ddeehhhh cantik booo...gw yakin pasti bukan pembokatnya...begitu gw masuk, gw d suruh masuk ke ruangan di sebelah kiri gw untuk buka baju n clana brikut clana dalem gw...kaget gw, yg tambah kaget ce tersebut ikut masuk n liat gw plorotin clana sampe cd gw...kliatan deh my mr.big jack...dgn tenangnya dia kasih tangan dia untuk gw pegang dan dia tuntun gw untuk masuk ruangan lain...

Begitu masuk ruangan yg lain, di situ suasananya rame banget...ada suara music n wangi2an...gw apal banget lagunya (pump it up) huahahaha gw pikir ada live dj nihhhh...ga taunya dari cd player...dan yg bikin mata gw mlotot adalah pemandangannya...karena disitu ada sekitar 15 orang (ce 9 co nya 6) dan dengan gw ada d situ berarti co nya ber 7...gw baru kali ini liat pemandangan seperti itu...krn yg bikin jantung gw makin jedag-jedug tante gw nyamperin gw dalam kondisi bugil...baru ini gw liat tante gw bugil n rangkul gw untuk d kenalin ke masing2 temennya yg ada d situ...yg bikin gw makin berdiri big jack gw,waktu dikenalin tangan tante gw remes2 pantat gw...ya udah deh kliatan barang gw yg makin tegang n semua yg ada d situ ketawa-ketiwi...sejenak gw malu...tp gw pikir lagi...ah ngapain malu toh yg ada d ruangan itu semuanya bugil...

Setelah dikenalkan akhirnya...mereka panggil waitress yg udah mereka sewa untuk menuangkan setiap minuman yg ada d situ ke setiap gelas untuk orang2 yg datang...suasana makin rame...maklum lah pengaruh alkohol...krn pengaruh alkohol tersebut makin tinggi gw yg tadinya hanya diem n liat kiri kanan..senyam senyum...mulai brani untuk deketin tante gw n gw nanya ma tante gw..."tan...ini acara orgy yah"...tante gw hanya senyum dan d beri aba2 gw d ajak langsung ke sofa depan gw trus dia BJ barang gw...ah gila gw pikir...gw hanya sempet bilang..."ah, tan..."...tante gw trus mempercepat ritme BJ nya...begitu slesai tante gw nuntun kepala gw untuk jilatin cimex nya...ah krn pengaruh alkohol makin tinggi gw dah ga perduli...gw jilat2 aja cimex tante gw sampe akhirnya gw merasakan juga apa yg om gw rasakan dari tante gw ini...ternyata enak banget cimex nya...empot ayam...di saat barang gw masuk serasa ada jepitan kuat di batang gw...jujur aja walau kondisi gw mabuk tp gw saat itu ga bisa nahan dimana gw harus kalah ma tante gw...dia senyum dan jilatin semua sampe tidak tersisa di barang gw...gw duduk diem n liat sekeliling gw d mana semuanya asyik dengan pasangan nya masing2...bahkan ada yg 3some...

15 menit berselang...napsu birahi gw semakin naik...gw deketin 1 ce yg sedang dijilat cimex nya ma ce lain...detik demi detik gw rasa terasa nikmat...dimana tante gw yg terengah2 oleh co dibelakngnya yg hajar dia lewat gaya doggy style...jam demi jam gw lalui akhirnya gw pamitan ma tante krn waktu itu tepat jam 00:30 dan gw ada janji ma TTM gw di kemang...gw pulang dengan kondisi agak sempoyongan krn minuman yg gw minum terlalu banyak...

Beberapa hari setelah kejadian itu gw sering jalan ma tante gw...janjian untuk ketemu dan do something nice...gw hanya bisa senyum dimana setiap gw ML ma tante gw karena gw adalah ponakan yg paling d sayang ma om gw...

om...maapin gw yahhh...tp tante emang legit ternyata..

Langganan Artikel

Input Email Anda, Untuk Berlangganan

 

web dewasa bebas Copyright © 2011 - |- Support By Web Dewasa Bebas - |- Powered by Blogger